Politik Pemerintahan

Buku yang Bedah Pemikiran Prabowo-Sandi Sedikit

Jember (beritajatim.com) – Direktur Eksekutif National Institute Riyanda Barmawi mengatakan, tak banyak buku yang membedah pemikiran Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam pemilu 2019, terutama yang ditujukan untuk pembaca dari generasi milenial. Ini menyebabkannya menulis dan menerbitkan buku ‘Prabowo-Sandi di Mata Milenial’.

“Buku perlu untuk mengurai gagasan-gagasan pemimpin bangsa, karena dengan narasi, publik akan bisa terdukasi, bisa mengetahui, terutama yang berada di level menengah,” kata Riyanda, dalam bedah buku ‘Prabowo-Sandi di Mata Milenial’ di Kafe DKN, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (6/4/2019) malam.

Menurut Riyanda, ada beberapa buku yang bertema Prabowo dan Sandi. Namun buku itu sebatas biografi atau memoar riwayat hidup. “Soal pikiran keduanya tak banyak,” jelasnya.

Riyanda menjelaskan, pada 2014, tak ada buku tentang pemikiran Prabowo. “Jadi kami menulis untuk figur Prabowo dan Sandi, yang bagi kami adalah harapan baru Indonesia,” katanya.

Buku berjudul ‘Prabowo-Sandi di Mata Milenial’ yang ditulis Riyanda bersama dua penulis lainnya itu ditulis bukan karena pesanan dari Prabowo dan Sandiaga. “Silakan dicek nama saya apakah tergabung di tim relawan atau partai koalisi. Kami kumpulan anak-anak muda yang peduli terhadap situasi bangsa dan memiliki ketertarikan untuk menulis figur keduanya,” kata Riyanda.

Buku itu ditulis pada Desember 2018 dan selesai pada Maret 2019. Riyanda hanya menerbitkan 1.500 eksemplar. “Kami menulis ini dengan satu visi: menelaah gagasan keduanya dalam memasuki kontestasi pilpres 2019. Kami melihat figur Prabowo-Sandi adalah figur energik dengan gagasan baru. Meski ada yang mengatakan gagasan-gagasan yang diungkapkan Prabowo adalah gagasan konvensional, misal politi kedaulatan. Itu isu lama. tapi bagi kami, politi kedaulatan adalah visi Prabowo untuk mempertahankan kedaulatan bangsa,” kata Riyanda.

Kedaulatan itu meliputi kedaulatan ekonomi. “Kita harus menyelamatkan APBN agar tak bocor. Kita harus menutup keran-keran kebocoran dalam sistem penganggaran di Indonesia dan tingginya tingkat korupsi dalam beberapa tahun terakhir,” kata Riyanda.

Kedaulatan ekonomi juga mengenai uang milik orang Indonesia yang diparkir di luar negeri. “Itu ingin dikembalikan Prabowo, agar sistem perekonomian nasional kembali stabil,” kata Riyanda. Ketiga, adalah soal defisit neraca perdagangan, karena angka impor dan ekspor tak seimbang.

“Bagi kami, figur Prabowo sedang ingin memeprtahankan kedaulatan ekonomi, pangan, dan energi. “Bagaimana kekayaan alam bisa dikelola bangsa ini. Ini bukan berarti Prabowo anti terhadap investasi. bukan berarti Prabowo anti asing. Dia tetap memiliki hubungan baik dengan negara-negara di luar hubungan bilateral maupun multilateral,” kata Royanda. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar