Politik Pemerintahan

BI Adakan Sekolah Desa untuk BPD Perempuan

Penyampaian materi dalam workshop dan sekolah desa oleh Bojonegoro Institute

Bojonegoro (beritajatim.com) – Direktur Bojonegoro Institute AW Syaiful Huda mengatakan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) punya peran besar dalam mewujudkan percepatan pembangunan desa.

Dengan kewenangan yang dimiliki, BPD dianggap bisa meningkatkan kualitas demokratisasi di desa, mendorong percepatan penanggulangan kemiskinan, serta mewujudkan kesetaraan gender di desa.

“Tujuan Sekolah Desa ini untuk memaksimalkan peran BPD, khususnya BPD unsur Perempuan, dalam penguatan kesetaraan gender dan percepatan penanggulangan kemiskinan di desa,” ujarnya, Jumat (12/10/2019).

Workshop dan sekolah desa yang dilakukan kemarin merupakan klaster pertama yang diikuti sebanyak 15 orang perwakilan BPD Perempuan dan 15 Warga. “Agar mereka (peserta) nantinya ada kolaborasi di desa,” tambah Aw Saiful Huda.

Saiful Huda menjelaskan, berdasarkan data statistik kesejahteraan rakyat (yang dirilis BPS) menunjukkan bahwasanya jumlah penduduk Kabupaten Bojonegoro yang berada di tingkat kesejahteraan terendah atau disebut Kuintil 1 ada sekitar 248 ribu jiwa, dengan klasifikasi perempuan sekitar 54,68 persen, sedangkan laki-laki sekitar 45,32 persen.

Sedangkan, lanjut dia, kualitas pembangunan manusia di Bojonegoro juga terdapat kesenjangan gender. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bojonegoro (2017), untuk nilai IPM perempuan sekitar 64,55 persen, sedangkan nilai IPM laki-laki sekitar 71,90 persen.

“Terdapat kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Terutama pada kemampuan daya beli dan rata-rata lama sekolah,” jelas Saiful Huda.

Dengan melihat gambaran kondisi kemiskinan, kesenjangan gender serta kualitas pembangunan manusia tersebut, Saiful Huda berharap agar BPD, khususnya dari unsur keterwakilan perempuan, akan lebih memaksimalkan lagi dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

Diantaranya dengan mendorong dan meningkatkan keterlibatan masyarakat, utamanya perempuan dalam penyusunan perencanaan program dan kegiatan pembangunan desa.

Pada kegiatan workshop dan sekolah desa, yang dihadiri sekitar 30 peserta, yang terdiri atas perwakilan BPD Perempuan dan warga perempuan dari 15 (lima belas) desa di Bojonegoro ini, para peserta dibekali beberapa materi utama. Diantaranya materi tentang tugas dan peran BPD, materi PPRG (Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender), APBDes Pro Poor dan lain-lain. [lus/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar