Politik Pemerintahan

Belajar Toleransi Pemeluk Agama Buddha dan Islam di Sampung Ponorogo

Suwandi Cita Panu saat beribadah di vihara Dharma Dwipa

Ponorogo (beritajatim.com) – Mengenal lebih dekat dengan pemeluk agama Buddha di Dusun Sodong Desa Gelang Kulon Kecamatan Sampung Ponorogo. Populasi pemeluk agama Buddha terbesar di kota Reyog. Momen hari raya Waisak digunakan oleh wartawan beritajatim.com bersilaturahmi kesana.

Hampir membutuhkan waktu 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari pusat kota Ponorogo ke Dusun Sodong yang terletak di perbukitan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Hijau pepohonan dan suara kicauan burung mengiringi perjalanan menuju dusun yang berada di tengah hutan itu.

Penyuluh Agama Buddha dan Ketua Vihara Dharma Dwipa Suwandi Cita Panu (46) mengungkapkan agama Buddha masuk ke dusun tersebut pada tahun 1950 dibawa oleh sesepuh agama Buddha disana bernama Pandita Mbah Simin.

”Dan resminya pada tahun 1969 dengan adanya vihara Dharma Dwipa. Pembangunannya dengan biaya swadaya masyarakat,” katanya saat ditemui beritajatim.com, Minggu (19/5/2019).

Jadwal peribadatan rutin di vihara Dharma Dwipa, lanjut Suwandi pada hari Minggu pagi dan Selasa malam untuk seluruh umat. Minggu siang ada sekolah minggu untuk anak-anak. Pada tahun 2014 dapat bantuan dari Kementerian Agama untuk penambahan bangunan di vihara Dharma Dwipa. Dimana salah satunya digunakan untuk acara ibu-ibu arisan lintas agama pada setiap hari Minggu sore.

”Operasional kegiatan sekolah minggu untuk anak-anak ini juga sudah dianggarkan oleh Kementerian,” ungkapnya.

Suwandi menceritakan dulu agama Buddha menjadi agama mayoritas warga hingga 95 persen dari jumlah penduduknya. Karena saat itu letaknya masih terpencil di tengah hutan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, ada pembangunan akses jalan yang cukup memadai. Agama Islam mulai masuk.

”Kini warga yang memeluk agama Buddha di Sodong tinggal 40 persen. Yakni ada sekitar 143 orang,” katanya.

Namun demikian, perbedaan agama yang dipeluk oleh warga dusun Sodong tidak menjadi masalah. Toleransi dan tenggang rasa dipegang teguh oleh mereka. Terbukti saat perayaan Waisak, biasanya tetangga yang muslim menagadakan open house bagi warga Buddha yang mengadakan silaturahmi. Begitupun sebaliknya saat perayaan lebaran umat muslim, warga Buddha juga mengadakan open house.

”Berhubung perayaan Waisak kali ini jatuh saat saudara muslim berpuasa. Akhirnya tradisi anjangsana ditunda sampai nanti lebaran tiba. Jadi sama-sama menggelar silaturahmi, bagi kami perbedaan ini yang menyatukan kita dalam perdamaian,” pungkasnya. [end/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar