Politik Pemerintahan

Bedah Buku Prabowo-Sandi ‘Dicekal’ di Surabaya, Lancar di Jember

Jember (beritajatim.com) – Bedah buku ‘Prabowo-Sandi di Mata Milenial’ berlangsung lancar, di Kafe DKN, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (6/4/2019) malam. Sehari sebelumnya, di Surabaya, acara bedah buku serupa urung dilaksanakan karena dibubarkan oleh aparat kepolisian dan Panitia Pengawas Kecamatan Jambangan.

Acara bedah buku ini dihadiri penulis buku tersebut, Riyanda Barmawi, dan diikuti puluhan orang mahasiswa. Mereka menyimak diskusi sembari menikmati kopi dan kudapan lainnya. Rencananya, setelah menghadiri acara bedah buku di Jakarta, Malang, Surabaya, dan Jember, ia akan menghadiri acara serupa di pondok pesantren Sampang dan Pamekasan di Madura. “Semuanya sebelum 17 April 2019,” katanya.

Riyanda menyesalkan pembubaran acara bedah buku di Surabaya. “Tiga hari lalu (sebelum acara bedah buku di Surabaya) kami sudah menyebarkan informasi berupa pamflet. Artinya kepolisian dan Panwascam sudah mengetahui akan ada acara itu. Jikalau pun panitia tidak menyampaikan undangan (kepada Panwascam dan polisi) karena tidak tahu regulasi dan sebagainya, semestinya kan diberitahu sebelum acara dimulai. Acara sudah mau mulai, baru Panwas dan Polsek Jambangan datang. Itu merugikan kami,” katanya.

Riyanda mengatakan, kegagalan diskusi buku di Surabaya melukai pihaknya. “Terutama kami yang mencintai diskursus, kami yang mencintai kebebasan berpikir. Itu sangat mencederai. Ini era demokratis. Semestinya pihak panwas dan polsek bersikap lebih elegan. Tidak sewenang-wenang melarang diskusi kami,” katanya.

Riyanda tidak bisa memahami perbedaan perlakuan aparat terkait bedah buku. “Kami diskusi di Jakarta tidak ada larangan (walau) tidak ada pemberitahuan (ke polisi dan Badan Pengawas Pemilu), karena kami pikir ini diskusi. Di mana pun diskusi tidak ada pemberitahuan ke mana pun, kecuali kami melakukan aksi demonstrasi, baru ada surat pemberitahuan. Oke, mungkin ini momen pilpres, tapi kan panitia di lapangan perlu diberitahu. Jangan ada kejadian (diskusi bedah buku berlangsung), baru disergap. Langkah-langkah pencegahan dari panwascam dan kepolisian itulah yang kami harapkan, bukan hanya menindak di lapangan,” katanya.

Informasi yang diperoleh Riyanda, acara bedah buku di Surabaya dicekal polisi karena khawatir ada pendukung Jokowi yang tidak menyukai acara itu dan kemudian terjadi pertikaian. “Mereka menginginkan situasi kondusif, maka itu harus ada surat. Tapi kami pikir itu terlalu jauh dari kenyataan, karena kami sedang mendiskusikan buku, bukan sedang melakukan deklarasi dukungan kepada calon presiden,” katanya.

“Untuk yang di Jember, kami hanya memberitahu via komunikasi (ponsel) saja dengan panwascam, tanpa ada surat. Polsek juga sudah tahu pastinya, karena panwascam sudah kami beritahu, karena mekanisme ini kan ada di panwas, bukan di kepolisian. Tapi kemarin yang di Surabaya kan yang datang polisi duluan,” kata Riyanda. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar