Politik Pemerintahan

Bangga Lamongan Sentra Produksi Pangan

Lamongan (beritajatim.com) – Sektor pertanian benar-benar menjadi perhatian Bupati Lamongan, HM Fadeli. Khususnya komoditas padi dan jagung, Bupati Fadeli berharap tingkat produktifitasnya meningkat dari tahun ke tahun.

“Saya berharap, tingkat produkstifitas jagung Lamongan rata-rata bisa di atas 10 ton per hektar. Demikian pula dengan padi,” kata Bupati Fadeli saat menerima sejumlah pengurus PWI Jatim di Pendopo Pemkab Lamongan, Kamis (21/3/2019) malam. Pengurus PWI Jatim yang diterima Bupati Fadeli antara lain Ainur Rohim (Wakil Ketua Bidang Pendidikan), Teguh LR (Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan Anggota), dan Eko Pamuji (Sekretaris).

Bupati Fadeli mengatakan, saat ini Kabupaten Lamongan menjadi penyumbang pangan, khususnya padi dan jagung, terbesar di Jatim. Posisi kedua ditempati Kabupaten Bojonegoro. Selain itu, tambahnya, Lamongan juga masuk 5 besar kabupaten/kota di Jatim sebagai penyumbang sapi potong.

“Cuma untuk peternakan sapi potong di sini belum sebagus sektor pertanian, khususnya padi dan jagung. Saya berpikir ke depan, keduanya mesti disinergikan karena banyak pakan ternak dari sisa pertanian yang kurang dimaksimalkan di Lamongan,” jelas Bupati Fadeli.

Bupati Fadeli propertanian dan propetani. Pengembangan pertanian di Lamongan bukan sekadar tentang luasan lahan, sistem irigasi, kepastian dan kecukupan pasokan pupuk di saat yang tepat, bibit unggul, dan teknologi pascapanen yang makin efisien.

Pemkab Lamongan menjalin kerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam hal penyediaan bibit unggul padi. Teknologi nuklir memberikan peluang lahirnya sejumlah bibit unggul yang sudah sukses dikembangkan BATAN dalam Inkubasi Bisnis dan Teknologi Produk.

Data BPS Jatim mengungkapkan, produksi padi Jatim mulai Januari hingga September 2018 sebesar 9,31 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Perkiraan total produksi padi Jatim 2018 adalah sebesar 10,54 juta ton. Ada tiga daerah dengan produksi GKG tertinggi di Jatim: Lamongan, Bojonegoro, dan Ngawi. Adapun total produksi masing-masing sebesar 924,21 ribu ton; 757,44 ribu ton; dan 753,20 ribu ton.

Luasan lahan pertanian di Lamongan mencapai 157.000 hektar, dengan tingkat produksi padi mencapai 1.053.796,10 ton dengan produktifitas 6,6 ton per hektar. Sedang data 2017, realisasi panen padi di Lamongan seluas 157.679 hektar dengan total produksi mencapai 1.087.964 ton.

Jenis tanaman pangan lainnya yang produksinya melimpah di Lamongan adalah jagung. Bupati Fadeli mengatakan, dalam dua atau tiga tahun ke depan, produksi jagung Lamongan bisa menyentuh angka 1 juta ton. Sebab, produksi jagung Lamongan tahun 2015 sebesar 323.549 ton, naik menjadi 372.162 ton pada 2016, kemudian melonjak menjadi 571.080 ton pada 2017.

Di sisi lain, catatan Dewan Nasional Jagung, produksi jagung di Lamongan pada 2017 juga yang tertinggi. Bahkan banyak pihak di luar negeri yang bertanya tentang Lamongan yang dikatakan sebagai mini Iowa (salah satu negara bagian di Amerika Serikat) terkait produksi jagung.

Fadeli mengutarakan, peningkatan produksi jagung di Lamongan 2017 dibanding 2016 mengalami peningkatan lebih dari 60 persen. Realitas ini melahirkan optimisme bahwa Lamongan akan menjadi sentra produksi jagung nasional.

“Ada banyak inovasi dan transformasi kultur pertanian yang kami sosialisasikan secara gradual kepada petani di Lamongan agar produktifitasnya meningkat. Selain itu, kami mulai terapkan pertanian organik di sejumlah titik di Lamongan,” tegas Bupati Fadeli.

Positioning Lamongan sebagai lumbung pangan Jatim dan nasional, menurut Fadeli, mesti terus ditingkatkan. Perkembangan terbaru inovasi dan teknologi pertanian selalu diadaptasikan Pemkab Lamongan kepada petani setempat secara gradual. Fadeli mengutarakan, mengubah kultur dan pola kerja petani tak mungkin dilaksanakan dalam tempo sekejap. “Sebab, petani itu kenyang pengalaman,” tukasnya.

Selain inovasi dan teknologi pertanian, keberadaan Sungai Bengawan Solo menjadi berkah tersendiri bagi kelangsungan kehidupan pertanian di Lamongan. Umumnya, lahan pertanian produktif di Lamongan berada di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo, seperti di Kecamatan Babat, Lamongan, Turi, Karanggeneng, Kalitengah, Sukodadi, Glagah, Maduran, Laren, Paciran, Kedungpring, Deket, dan Sarirejo.

“Sekiranya waduk dan embung-embung untuk menyimpan air hujan itu bertambah, insya Allah pertanian di Lamongan makin bagus dan produktifitasnya dipastikan meningkat,” tandas Bupati Fadeli. [air/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar