Politik Pemerintahan

Bagaimana Nasib 20 Jembatan Timbang di Jawa Timur?

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jatim, Fattah Jasin buka suara terkait nasib 20 jembatan timbang (JT) di Jatim yang telah diambil alih pemerintah pusat sejak Januari 2017.

“Dengan lahirnya UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah, ada beberapa urusan yang berubah kewenangan. Jembatan timbang dulu kewenangan pemprov, sekarang diambil alih pusat. Selama ini pengelolaan jembatan timbang di Jatim adalah terbaik di Indonesia,” kata Fattah kepada beritajatim.com di kantornya, Selasa (30/7/2019).

Dari 20 jembatan timbang yang telah diambil alih oleh pemerintah pusat, yang sudah dan akan beroperasi kembali ada tiga JT. Yakni, JT di Widang-Tuban, Rejoso-Pasuruan dan Trosobo-Taman Sidoarjo. Artinya, masih 17 JT yang mangkrak alias belum beroperasi.

“Gubernur Jatim sudah berkirim surat ke Menteri Perhubungan pada Februari 2019, agar seluruh jembatan timbang bisa difungsikan kembali seperti ketika pemprov yang mengelola. Kami menyayangkan jika jembatan timbang itu tidak dioperasionalkan kembali. Jembatan timbang selama ini berkontribusi untuk memperpanjang usia jalan,” jelasnya.

Selain berkirim surat kepada Menhub, pemprov juga berkoordinasi dengan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub. “Apabila memungkinkan, dananya dari pusat menggunakan dana dekosentrasi, SDM-nya dari provinsi. Kalau ini disetujui pusat, SDM kami siap,” tegasnya.

Sekadar diketahui, sebelum diambil alih oleh pemerintah pusat, JT di Jatim sudah menggunakan computerize. “Yang menimbang sudah mesin, komputerisasi dan diawasi CCTV. Ini telah diapresiasi KPK. Obyek pertama kali di Jatim adalah JT dan P2T yang masuk wilayah bebas korupsi (WBK) sekitar tahun 2012,” tutur mantan Kadishub Jatim yang kini menjabat Asisten II Sekdaprov Jatim, Wahid Wahyudi.

Sehingga, di Jatim bisa mengubah satu slogan. Slogan lama adalah ‘Jangankan manusia, malaikat saja ditugaskan di Jembatan Timbang bisa berubah jadi setan’. Slogan baru sekarang dengan penerapan teknologi adalah ‘Jangankan manusia, seandainya setan ditugaskan di Jembatan Timbang akan berubah menjadi malaikat’. “Ini karena nggak bisa pungli lagi,” imbuhnya.

Di era kepemimpinan Wahid Wahyudi, denda kendaraan yang melebihi muatan di JT dinaikkan menjadi 400 persen. Ada perubahan secara signifikan. Sebelumnya truk yang melintas di jalan sebesar 52 persen mengalami overload. Saat itu, turun drastis menjadi 23 persen dan berharap zero overloading.

“Tapi sangat disayangkan sejak JT diambil pusat pada Januari 2017. Akibatnya, aset negara tidak dimanfaatkan serta pengendalian angkutan barang dan polusi tidak bisa diminimalisir,” ujarnya. [tok/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar