Politik Pemerintahan

Aktivis HMI Malang Gelar Diskusi Terkait Pemilukada

Malang (beritajatim.com) – Silaturahmi dan Diskusi Terbuka digelar aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Wahid Hasyim Cabang Malang, Jumat (22/11/2019) sore ini.

Bertempat di Graha Yakusa Indonesia Jalan KH.Hasyim Asyari Nomer 159 Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang ini, diskusi terbuka mengambil tema Mengokohkan Peran Kader HMI Dalam Mewujudkan Pemilu Yang Demokratis dan Bermartabat.

Hadir dalam Diskusi Terbuka sejumlah pemateri dari mantan aktivis HMI. Diantaranya Marlina Saman, Muhammad Toyib dan Nur Hasyin.  Marlina Saman saat ini menjabat Komisioner KPUD Kota Batu. Sementara Muhammad Toyib, juga menduduki Komisioner KPUD Kota Malang. Sedang Nur Hasyin, juga menjabat Komisioner KPUD Kabupaten Malang.

Tiga lembaga adhoc penyelenggara pemilu di Malang Raya ini pun, didapuk sebagai Narasumber diskusi. “Ada 28 tahapan kalau kita bicara Pilkada Bupati Malang tahun 2020. Tahapan pertama yakni proses perencanaan anggaran. NPHD, sudah kita lakukan dengan nilai Rp 85 milyar untuk pembiayaan proses Pilkada nanti,” kata Nur Hasyin mengawali diskusi terbuka.

Menurut Hasyin, tahapan hari ini yang akan dipersiapkan KPUD Kabupaten Malang yakni, terkait calon perseorangan. “Hari ini kita mempersiapkan untuk calon perseorangan. Waktunya mulai awal Desember 2019 sampai Maret 2020. Dimana syarat dukungan bagi calon perseorangan sebanyak 129 ribu lebih,” beber Hasyin dihadapan peserta diskusi.

Sementara itu, Muhlis Ali selaku Pimpinan Graha Yakusa Indonesia, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang menjelaskan, diskusi hari ini kita undang 3 orang Komisioner KPUD Malang Raya.

“Kita mendiskusikan soal tahapan dan isu-isu strategis berkaitan Pilkada dan Pemilu di Indonesia. Sehingga, dengan diskusi kali ini, merangsang generasi muda agar tahu dan paham proses tahapan Pilkada dan Pemilu di Indonesia,” tegas Muhlis yang juga Mantan Ketua HMI Pusat ini.

Muhlis menambahkan, diskusi terbuka hari ini, sebagai upaya agar ada kemauan dalam memperbaiki kualitas Pemilu. Karena selama ini, proses tahapan Pilkada maupun Pemilu serentak selalu dikaitkan dengan kecurangan hingga transaksi jual beli suara.

“Sehingga melalui diskusi ini, ada upaya dan kemauan untuk memperbaiki seluruh proses tahapan pemilu. Kalau tidak ada kemauan memperbaiki, hal ini sebagai ancaman serius terhadap proses demokrasi di Indonesia. Sistem Pemilu harus diperbaiki, caranya ya melalui diskusi-diskusi semacam ini. Lewat diskusi, juga merangsang anak-anak muda lebih peduli lagi akan proses demokrasi di Indonesia,” Muhlis mengakhiri. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar