Politik Pemerintahan

Dialog Publik Universitas Jember - PWI

Akademisi Unej Sarankan Bupati Jember Kurangi Kegiatan Seremonial

Hermanto Rohman

Jember (beritajatim.com) – DPRD kerap bersilang pendapat dengan Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, terkait penganggaran belanja daerah terjadi karena parlemen menginginkan APBD pro rakyat. Sementara itu, Bupati Faida disarankan untuk lebih berfokus dalam merealisasikan belanja dan terjebak pada seremonial.

Demikian benang merah pernyataan Ketua DPRD Jember Ardi Pujo Prabowo dan akademisi Hermanto Rohman, dalam dialog publik mengenai APBD yang diselenggarakan Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia, di Gedung Kauje, Kabupaten Jember, Selasa (13/8/2019).

“Karena fungsi kami juga pada penganggaran, kami memperjuangkan APBD yang pro rakyat. Ini yang mungkin dibaca di luar bahwa kami sering berantem. Contoh Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) yang semakin besar. Silpa semakin besar itu karena serapan OPD-OPD (Organisasi Perangkat Daerah) sangat rendah. Mereka memiliki program bagus tapi tidak bisa menjalankan,” kata Ardi.

Tahun 2016, silpa APBD Jember mencapai 453 miliar. Tahun 2017, silpa bertambah menjadi Rp 617 miliar, dan tahun 2018 menjadi Rp 713 miliar. DPRD Jember beberapa kali mengevaluasi serapan anggaran oleh OPD-OPD. “Mungkin karena salah satu faktornya, mereka bukan di bidang itu. Penempatan (kepala) OPD tidak bidangnya. Kedua, mereka tidak bisa menangkap program yang mereka buat sendiri. Akhirnya serapan-serapan sangat minim di beberapa OPD,” kata Ardi.

Hermanto Rohman, pengajar FISIP Universitas Jember, mengatakan, pernah ada evaluasi dari pemerintah pusat terhadap tingginya silpa pemerintah daerah. “Untuk konteks Jember, ada tiga hal yang bisa kami analisis,” katanya.

Pertama, menurut Hermanto, bisa jadi silpa ini strategi optimalisasi pengelolaan kas daerah. Kedua, silpa ini bisa jadi muncul karena ada dua hal dalam politik anggaran, yakni pendapatan dan belanja. Silpa bisa terjadi karena mungkin target PAD (Pendapatan Asli Daerah) selalu moderat. “Padahal potensinya maksimal, tapi dia mau aman,” katanya. Tujuannya agar di akhir penganggaran ada peningkatan PAD.

Sementara terkait belanja, menurut Hermanto, eksekutif selalu meningkatkan belanja dengan anggapan bisa melaksanakan semua program. Namun ada kelemahan dalam eksekusi belanja ketika tak terencana baik.

“Saya melihat ada beberapa indikator terjadi di Jember. Pertama, sumber daya manusia yang seharusnya berperan dalam eksekusi belanja tidak maksimal. Kita lihat beban (kepala) OPD, ketika dia menjadi pelaksana tugas di OPD lain akan berdampak pada beban kerja mereka. Keberadaan pelaksana tugas ini akan berdampak pada manajemen (dalam OPD-nya),” kata Hermanto.

Pemerintah daerah, menurut Hermanto, terlalu banyak melakukan rotasi jabatan. “Rotasi jabatan tidak bagus dalam konteks manajemen dalam pelaksanaan anggaran,” katanya. Indikator terakhir adalah gagal lelang.

Hermanto menyebutkan, bahwa kebijakan eksekutif dan legislatif di Jember sudah bagus. “Cuma dalam tataran eksekusi, yang harus diperhatikan dalam waktu tersisa ini, pemerintah daerah harus sesegera mungkin mengoptimalkan belanja ini untuk mengatasi ketimpangan antardaerah, ketimpangan pendapatan, dan juga terkait dengan masyarakat berkebutuhan khusus. Ketika pemerintah daerah fokus terhadap persoalan tersebut, bupati harus mengurangi kegiatan-kegiatan seremonial yang itu sebetulnya sulit untuk diukur esensi dan dampaknya apa terhadap masyarakat,” katanya.

“Kedua, persoalan silpa, persoalan serapan anggaran tidak maksimal, ini karena memang ada pola leadership atau pola dalam manajerial yang harus dikurangi, misalnya sering terjadinya mutasi jabatan. Ini harus dikurangi, karena faktanya akan berdampak terhadap kerja birokrasi. Ketika mengurangi rotasi jabatan ini, yang harus dipikirkan adalah konsolidasi birokrasi,” kata Hermanto. Dengan masa jabatan yang tersisa, jika Bupati Faida terfokus terhadap hal-hal yang disebutkan tadi, akan ada optimisme yang muncul. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar