Politik Pemerintahan

Ada Kampung Digital di Banyuwangi, Seperti Apa?

Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Kampung Digital di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Kecamatan Genteng. Festival ini memamerkan berbagai kemajuan desa hasil inovasi berbasis digital. Mulai sektor pelayanan publik, pelayanan kesehatan, hingga ekonomi kreatif.

“Kemajuan Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari kemajuan desa-desanya. Tahun ini ada dua ajang festival khusus yang menjadi pesta inovasi desa, yaitu Festival Smart Kampung pada Juli lalu yang lebih lengkap, dan hari ini ada Festival Kampung Digital yang juga mengangkat sebagian inovasi desa,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Anas mengatakan, digitalisasi telah memberikan kemudahan dan percepatan dalam berbagai program pembangunan di Kabupaten Banyuwangi. “Kalau pelayanan publiknya baik, dampaknya ke ekonomi rakyat pasti juga baik,” ujarnya.

Saat ini, dari 189 desa di Banyuwangi, 90 persen di antaranya sudah berhasil dimasuki jaringan internet berbasis serat optik (fiber optic/FO). Pemkab Banyuwangi menggandeng dua perusahaan teknologi informasi untuk keperluan tersebut.

“Dengan adanya jaringan internet ke desa-desa, kami harapkan bisa memaksimalkan program Smart Kampung di mana bukan hanya memberi pelayanan publik yang maksimal, namun juga mengintegrasikan dengan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah layanan KIOSK milik Desa Kaligung, Kecamatan Blimbingsari. KIOSK adalah bagian dari program SMART Kampung yang berisi aplikasi layanan data dan informasi tentang kependudukan, kesehatan, dan pendidikan. Dengan aplikasi ini, warga bisa melakukan layanan mandiri untuk berbagai keperluan hanya dengan memindai KTP pada perangkat yang disediakan.

Selain itu juga ada aplikasi kesehatan Siap Cantik (Sistem Alikasi Posyandu dengan Pencatatan Elektronik) milik Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Aplikasi berbasis android ini memberi kemudahan bagi pengguna layanan khususnya ibu-ibu di kampung-kampung untuk melihat perkembangan kesehatan dan mendapatkan tips dan informasi seputar kesehatan.

“Ternyata jika terus didorong, desa-desa berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik. Festival ini juga sebagai media belajar bagi perangkat desa-desa lainnya, agar termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Terjadi kompetisi yang sehat untuk saling berinovasi. Artinya, iklim inovasi tumbuh subur di Banyuwangi,” ujar Anas.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Banyuwangi Budi Santoso mengatakan, sejumlah daerah kini telah dilengkapi self service. Meskipun jumlahnya belum merata.

“Di Blimbingsari tuntas, Rogojampi tinggal 2 desa, Singojuruh tuntas, tapi kalau diakumulasi semua belum sampai 50 persen. Namun, ada juga beberapa desa dari kecamatan lain yang memiliki satu atau dua self service,” ungkapnya.

Self Service sebuah aplikasi layanan yang dimiliki oleh desa yang di dalamnya terintegrasi dengan beberapa layanan administrasi kependudukan. Dengan alat ini, warga tinggal membuka dengan menggunakan kartu identitas kependudukan, selanjutnya bisa memilih layanan yang diinginkan. [rin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar