Politik Pemerintahan

3 Desa di Kecamatan Sooko Jadi Langganan Lokasi Pembuangan Sampah

Mojokerto (beritajatim.com) – Di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, masalah sampah menumpuk di pinggir jalan tak hanya terjadi di pinggir aliran Kali Brangkal tepat di Desa Brangkal saja. Ada dua desa lagi yang menjadi langganan pembuangan sampah yakni Desa Modongan dan Wringinrejo.

Camat Sooko, Masluchman mengatakan, sampah menumpuk di pinggir jalan juga terjadi di beberapa desa di Kecamatan Sooko. “Yakni Desa Modongan dan Wringinrejo. Sama di pinggir jalan tapi sekarang sudah tertanggani,” ungkapnya, Rabu (13/2/2019).

Masih kata Camat, di Desa Modongan saat ini sudah bisa diatasi dan lokasi yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah ditanami toga. Sementara di Desa Wringrejo, saat ini dijadikan tempat Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berfungsi sebagai pengawas.

“Sekarang ini Desa Brangkal, sebetulnya kita ada TPS di Desa Kedung Maling yang diambil petugas DLH tiap hari. Untuk masalah sampah di Desa Brangkal perbatasan dengan Kedung Maling ini memang cukup susah karena masalahnya datang dini hari, warga pergi ke pasar bawa sampah,” katanya.

Sehingga pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak desa untuk mencari tenaga khusus yang memata-matai saat malam hari. Jika diketahui ada warga yang membuang sampah maka akan diberikan denda.

“Kita koordinasi dengan desa untuk melakukan pengintaian karena akan berlanjut jika terus dibiarkan karena yang buang tetap orangnya itu-itu saja, artinya sudah terbiasa dengan aktivitas di wilayah sini. Bisa pedagang, mlinjo atau lainnya. Warga tidsk mungkin karena di perumahan terletak di dalam,” ujarnya.

Sampah rumah tangga tersebut sengaja dibuang orang yang pergi ke Pasar Kedung Maling yang terletak di sebelah lokasi pembuangan sampah. Dengan membawa plastik kresek, orang-orang yang tak bertanggungjawab tersebut membuang saat pergi ke pasar.

“Penangganan preventifnya, kami juga akan kerahkan muspika kecamatan, koramil dan polsek karena sampah sumber dari orang yang ke pasar. Kami juga berharapkan pasar segera direlokasi ke lokasi baru dan masalah sampah disini teratasi,” ujarnya.

Camat menjelaskan, langkah se lanjutkan pihak desa sudah berencana melakukan penangganan yakni dengan mentutup tembok di pinggir Kali Brangkal. Rencana pembangunan tembok tersebut sudah dianggarkan di Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) Tahun 2019 ini.

“Sudah dianggarkan menunggu penyerapan, antara bulan 3 sampai 4. Kalau ditutup sementara, takutnya malah buang ke sungai, solusinya sampah ini bisa diambil dan sungai aman. Katena pernah ditutup, ternyata dibuang sungai dan mengendap,” tegasnya.

Menurutnya, pihak kecamatan setiap kali menggelar kegiatan di desa selalu menyampaikan soal sampah. Yakni bagaimana mengolah sampah, dengan merubah paradigma masyarakat sampah tidak menjijikan tapi bernilai sehingga harus diolah. Bank sampah di Kecamatan Sooko menurutnya sudah berjalan.

“70 persen bank sampah di masing-masing desa sudah berjalan di Kecamatan Sooko dari 15 desa yang ada, artinya sudah berjalan. Sampah dipilih sampah dan ada pengepulnya. Himbauan masyarakat agar menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri, disiplin dan bisa pilah sampah agar ketika banjir bisa teratasi,” pungkasnya.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar