Peristiwa

Zainudin Bangun Musala Sebelum ‘Hijrah’ ke Pesantren di Malang

Mojokerto (beritajatim.com) – Muhammad Zainudin (42) warga Desa Klinter Rejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto merupakan pimpinan jamaah Thoriqoh Akmaliyah As- Sholihiyah atau MUSA AS di Kabupaten Mojokerto. Di musala pribadi miliknya, ajaran tersebut ia tularkan ke pengikut lain.

Adik kandung Zainudin, Santi Umami mengatakan, tidak tahu jika kakaknya merupakan pimpinan jamaah MUSA AS di Kabupaten Mojokerto. “Saya sendiri kurang tahu kalau Zainudin menjadi pimpinan, selama ini memang dia sering mengajak orang untuk mengaji,” ungkapnya, Sabtu (16/3/2019).

Antara lima sampai tujuh orang termasuk istrinya, Hanik Masruroh (40), mengaji di musala miliknya. Ia kerap mengadakan pengajian dan zikir bersama para jamaah seminggu dua kali. Sejak SMA Zainudin memang sudah menimbah ilmu di Pondok Pesantren (ponpes) di Malang.

“Yang saya tahu, setiap hari Selasa dan Rabu, kalau Selasa Istighasah dan hari Rabu itu ngaji kitab. Mulai habis isya sampai jam 9 malam, tapi saya tidak tau kitab apa yang dipelajari. Saya hanya tahu sebatas itu, untuk lebih dalamnya saya tidak paham meski saya sendiri satu rumah,” katanya.

Masih kata Umami, pengajian rutin yang dilakukan Zainudin bersama beberapa pengikutnya sudah berjalan cukup lama. Yakni di musala pribadi yang berada di belakang rumah, di Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Namun sebelumnya dilakukan di Desa Kelinterejo.

“Yang saya tahu, musala itu memang milik pribadi dan dibangun tiga tahun yang lalu dengan uang iuran para jamaah. Musala ini dibangun di atas tanah milik keluarga sehingga pembangunannya dilakukan secara bertahap,” jelasnya.

Keluarga berharap, Zainudin bersama istri dan empat anaknya segera pulang ke Mojokerto. Pihak keluarga terakhir komunikasi melalui pesan singkat yang mengabarkan jika mereka di Malang dalam kondisi baik dan berpesan agar tidak lupa beribadah.

Pantauan beritajatim.com di lokasi, sebuah musala panggung yang lokasinya berada tepat di belakang rumah milik Umami, yakni di Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Musala tersebut dengan ukuran 8 x 8 meter persegi.

Dari depan musala tampak kumuh dengan beberapa kayu yang masih berserakan karena pembangunan yang belum kelar. Di dalam musala terdapat tempat imam selebar 1 meter, tinggi 1/2 meter berwarna hitam. Di dalamnya terdapat sebuah tong. Tong berwarna merah tersebut terdapat gayung serta termos berwarna hijau dan beberapa botol wewangian. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar