Peristiwa

Upacara Hari Santri di Tengah Deburan Ombak Sungai

Puluhan peserta upacara HSN berbaris di bantaran Sungai Brantas, Desa Jombatan, Kesamben, Jombang, Selasa (22/10/2019). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Matahari mulai tergelincir ke arah barat ketika puluhan orang berseragam putih berbaris rapi di bantaran Sungai Brantas, Dusun Pulokunci, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Jombang, Selasa (22/10/2019). Semburat sinar merah tembaga menghiasi angkasa sore itu.

Mereka adalah para peserta upacara dalam rangka memperingati HSN (Hari Santri Nasional) 2019. Tua, muda, pria dan wanita mengikuti kegiatan tersebut. Yang pria mengenakan sarung dan berpeci, sedang para wanita terbalut jilbab dengan seragam warna putih. Upacara berjalan khidmat. Di sela itu, sesekali terdengar deburan ombak sungai. Maklum saja, lokasi upacara berada di tepi dam karet atau bendungan karet.

Upacara berlangsung penuh semangat. Mulai dari pengibaran bendera merah putih, pembacaan Pancasila, Ikrar Santri Indonesia, hingga menyanyikan lagu Subhanul Wathon. Bahkan, saat menyanyikan lagu yang diciptakan KH Wahab Chasbullah itu, pancaran semangat tergambar jelas dari sorot mata mereka.

Seiring lagu Subhanul Wathon berkumandang, tangan para peserta upacara mengepal ke udara, bergerak-gerak mengikuti irama. Sementara peserta upacara dari kalangan anak-anak, menggenggam bendera merah putih berukuran kecil. Bendera itu berkibar-kibar dipermainkan semilir angin di tepi sungai.

Memang, HSN di Kecamatan Kesamben ini diperingati secara berbeda, yakni memilih bantaran sungai sebagai lokasi upacara. Semua tidak lepas dari peran Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor, setempat.
Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ketua PAC GP Ansor Kesamben Akhmad Toni Syaifuddin. Sedangkan pemimpin upacara adalah Adit, anggota Banser dari Satkoryon Kesamben.

Usai upacara, Toni menjelaskan, dipilihnya lokasi pinggir Sungai Brantas bukan tanpa alasan. Selain unik, Sungai Brantas merupakan urat nadi kehidupan bagi warga sekitar. Dari sungai itulah ratusan hektar sawah terairi. Dari sungai itu pula, warga menggantungkan hidup.

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kesamben Toni Syaifuddin saat memberikan keterangan di depan wartawan. [Foto: Yusuf Wibisono]
“Sungai merupakan urat nadi kehidupan. Begitu juga dengan Sungai Brantas yang melintasi Kecamatan Kesamben. Makanya, sungai ini harus kita jaga. Santri harus memiliki kepedulian terhadap kebersihan sungai. Yakni dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Itu beberapa alasan mengapa kita menggelar upacara HSN 2019 di bantaran Brantas atau tepatnya di tepi dam karet (bendungan karet) Desa Jombatan,” ujar Toni.

Sedangkan makna filosofisnya, lanjut Toni, santri harus memiliki semangat seperti Sungai Brantas yang mengalir tiada henti. Baik itu musim kemarau maupun musim hujan. Sungai Brantas tetap mengalir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Air Sungai Brantas mampu menghijaukan lahan-lahan yang kerontang. “Begitu juga santri, kehadirannya harus bermanfaat bagi masyarakat. Santri harus barokah dan mbarokahi, istilahnya begitu,” ungkapnya.

Toni juga mengatakan, upacara hari santri itu juga untuk mengenang para pejuang kemerdekaan. Khususnya, dalam momentum ini adalah lahirnya resolusi jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi jihad tersebut dicetuskan oleh pendiri NU (Nahdlatul Ulama) Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Para peserta upacara menikmati hidangan iwak kali hasil tangkapan dari Sungai Brantas. [Foto: Yusuf Wibisono]
Resolusi jihad itulah yang membakar semangat Arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945. Dalam pertempuran itu banyak santri yang gugur sebagai syuhada. “Artinya, peran kiai dan santri sangat besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran penting itu jangan sampai tersobek dari lembar sejarah. Makanya peringatan HSN ini sangat penting,” ujar Ketua PAC Ansor Kesamben ini.

Lebih jauh, Toni mengungkapkan, refleksi HSN ini juga dimaksudkan agar para santri dapat meneladani semangat jihad keindonesiaaan para pendahulu. Tak hanya itu, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air dan semangat rela berkorban demi bangsa dan negera harus membekas di benak para santri.

Setelah prosesi upacara selesai, dilanjutkan dengan acara makan bersama atau dalam tradisi santri disebut mayoran. Para peserta dan tamu undangan makan bersama dengan menu iwak kali yang merupakan hasil tangkapan dari Sungai Brantas. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar