Peristiwa

Tinggal 2 Korban Keracunan Tongkol yang Dirawat

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember Dyah Kusworini

Jember (beritajatim.com) – Dari 250 orang korban keracunan ikan tongkol di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tinggal dua orang yang menjalani perawatan, Kamis (2/1/2020). Kondisi mereka berangsur membaik.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember Dyah Kusworini mengatakan, keracunan ikan tongkol ini mulai terjadi pada 31 Desember 2019. Dinkes Jember mengerahkan 50 puskesmas dan 13 rumah sakit serta klinik layanan pratama.

“Diawali laporan puskesmas soal peningkatan kasus. Dari satu puskesmas, kami kembangkan kepada puskesmas yang lain. Sampai hari ini, laporan yang masuk mencapai 250 kasus. Sampai siang tadi 248 orang sudah dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah masing-masing,” kata Kusworini.

Menurut Kusworini, daya tahan tubuh setiap orang dan jumlah ikan yang dimakan pun berbeda. Dua orang yang saat ini masih dirawat sedang dalam proses pemulihan. “Satu oramh di RS Kaliwates. Kalau sudah membaik, sore ini dipulangkan. Satu lagi di puskesmas Ledokombo, sedang observasi. Kalau sudah membaik sore ini akan pulang,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Murtadlo mengatakan, berdasarkan pengecekan di lapangan ditemukan beberapa hal. “Sejak 23 Desember sampai 31 Desember, ditemukan fakta bahwa di Puger nelayan panen tongkol jenis locok atau tongkol tikus,” katanya.

Tradisi bakar ikan saat malam pergantian tahun membuat ikan tongkol diminati. Masyarakat berbelanja ikan tongkol itu tempat pelelangan ikan di Puger. “Ikan dimasak menjelang tengah malam. Padahal ketahanan tingkat kesegaran ikan tongkol jenis locok ini maksimal empat jam, kecuali ikan ini disimpan di alat penyimpanan memadai seperti cold storage, freezer, atau ditumpuki es batu sebanyak-banyaknya,” kata Murtadlo.

Pembeli mengabaikan ini. Padahal ikan tongkol locok harus disimpan di bawah suhu enam derajat celcius agar tahan lama. “Kandungan histamin dalam ikan tongkol itu akan meningkat setelah empat jam di udara terbuka. Orang-orang yang mengonsumsi ikan ini akan mengalami gatal-gatal, muntah-muntah, dan kalau diteruskan kepala pusing,” kata Murtadlo.

Murtadlo mengatakan ini kejadian keracunan massal pertama di Jember. “Ikan tongkol ini juga dibawa ke daerah lain, tapi karena penanganannya benar, tidak ada kasus. Kami selalu melakukan sosialisasi edukatif kepada pedagang ikan, nelayan, dan masyarakat yang mengonsumsi. Ciri-ciri ikan segar sudah kami pampang di tempat pelelangan ikan,” katanya.

Menurut Murtadlo, ikan bersisik relatif lebih tahan lama kesegerannya daripada yang tak punya sisik. Ikan tongkol ini termasuk jenis ikan tak bersisik. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar