Peristiwa

Terbangkan Balon Udara, Bisa Dipenjara

Ponorogo (beritajatim.com) – Belajar dari pengalaman bulan Ramadan tahun lalu, Pemkab Ponorogo melarang masyarakat bumi reyog menerbangkan balon udara. Larangan tersebut tertuang dalam Instruksi Bupati Ponorogo 3/2019 tentang Petunjuk Kegiatan Untuk Menghormati Bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1440 H/2019.

“Ada sanksi tegas untuk mereka yang melanggar dua larangan tersebut. Karena sudah ada buktinya kalau itu membahayakan,” kata Kasatpol PP Supriyadi, (15/5/2019).

Supriyadi mengungkapkan, Ponorogo sebelumnya telah mendapat atensi dari otoritas penerbangan. Meliputi Lanud Iswahjudi hingga Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Tahun lalu, Ditjen perhubungan sampai menyebut ada lebih dari seratus laporan dari pilot domestik maupun internasional mengenai balon udara yang mencapai jalur penerbangan.

“Kenapa mereka menekankan di Ponorogo? Karena menerbangkan balon ini sudah menjadi tradisi saat Idul Fitri di sini,” katanya.

Supriyadi menyebut pihaknya akan memantau ketat larangan itu bersama Polri dan TNI. Ancaman pidana bagi orang yang menerbangkan balon bisa dipenjara hingga tiga tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. “Balon udara masuk dalam kategori halangan yang membahayakan keselamatan penerbangan,” katanya.

Selain balon udara, petasan juga dilarang. Baik dalam hal memproduksi, berjualan, hingga menyimpan dan menyalakan petasan. Menurut Supriyadi, berbagai bentuk larangan itu tujuannya juga demi keselamatan bersama.

“Ada yang menjadi korban ledakan petasan, hutan terbakar dan gangguan jaringan aliran listrik menjadi bukti jika balon udara dan petasan itu membahayakan,” pungkasnya. [end/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar