Peristiwa

Tanggulangi Banjir dengan Normalisasi atau Naturalisasi? Begini Kata Pakar Drainase

Surabaya (beritajatim.com) – Memasuki musim penghujan dan cuaca ekstrem, banjir masih menjadi ketakutan tersendiri. Meskipun beberapa ahli mengatakan bahwa banjir di Surabaya masih dapat ditanggulangi, upaya penanggulangan harus terus dilakukan.

Umboro Lasminto, ST, M.Sc, Ahli Drainase dan Anggota Pusat Penelitian Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian banjir.

“Banyak yang meributkan mana konsep yang benar dalam penanggulangan banjir. Normalisasi atau naturalisasi. Dari sini kami meninjau dari aspek hidrologi dalam ilmu keteknikan untuk mengatasi banjir setidaknya 2 konsep itu bisa dikerjakan bersama-sama,” ungkap Umboro, Senin (6/1/2020).

Dari pandangan hidrologi ada tiga air yang berperan dalam banjir pada kota-kota yang berada di tepi laut. Pertama, air sungai yang berasal dari hujan yang turun di dearah aliran sungai (DAS) perlu dibuatkan tampungan, dalam bentuk bendungan, waduk, situ, embung-embung atau bentuk tampungan air lain.

Di samping menampung, perlu juga meningkatkan resapan air ke dalam tanah yang dapat dilakukan dengan memperluas kawasan hutan atau tanaman tahunan, membuat sumur resapan, kolam resapan, biopori dan lain-lain.

Jika debit air dari daerah hulu masih besar meskipun sudah ditampung dan diresap, naturalisasi dan normalisasi dapat dikerjakan secara bersama-sama.

Naturalisasi dalam ilmu teknik sungai dikenal dengan restorasi, yaitu upaya mengembalikan sungai pada kondisi alami di mana sungai terdiri dari penampang sungai utama dan bantaran sungai di kanan dan kirinya serta dataran banjir (flood plain). Pada saat aliran normal, air akan mengalir hanya di penampang sungai utama. Sedangkan pada saat banjir, air akan mengalir di sungai utama dan bantaran sungai serta di dataran banjir.

“Bantaran sungai yang cukup lebar diperlukan untuk meningkatkan kapasitas alir sungai. Bantaran sungai tidak boleh digunakan untuk kegiatan manusia selama musim hujan karena sewaktu-waktu dapat dialiri banjir. Penggunaan lahan dataran banjir harus beradaptasi bahwa pada lahan tersebut suatu saat akan terjadi banjir atau genangan,” tukas Umboro.

Umboro menambahkan, naturalisasi dapat dilakukan pada penampang sungai bagian tengah, di mana secara alami aliran sungai berkelok-kelok (meander). Aliran sungai berkelok dan adanya bantaran sungai akan menghambat kecepatan aliran, dengan demikian tersedia waktu yang cukup lama banjir untuk mencapai ke hilir. Waktu ini berguna untuk memberi peringatan dini dan mengambil tindakan sebagai upaya mitigasi bencana banjir.

“Di bagian hilir sungai, debit banjir harus segera dialirkan ke laut, namun daerah ini biasanya padat pemukiman, sehingga ketersediaan lahan sangat terbatas dan pembebasan lahan juga sangat sulit dilakukan. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas sungai dapat dilakukan dengan pelebaran sungai yang terbatas,” tambahnya.

Normalisasi dapat memperlebar, meningkatkan kedalaman aliran atau memperhalus permukaan sungai agar kecepatan dan kapasitas debit meningkat. Dikarenakan ketersediaan lahan terbatas maka normalisasi dilakukan dengan membuat tebing sungai tegak atau hampir tegak, sehingga perlu bangunan perkuatan agar tidak longsor. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar