Peristiwa

Tanggul Sungai Brantas Ambrol, 5 Desa di Jombang Diintai Bencana

Bronjong yang yang berfungsi sebagai penguat tanggul Sungai Brantas di Dusun Jatipandak Jombang, ambrol, Rabu (15/1/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Tanggul Sungai Brantas yang ada di Dusun Jatipandak, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, kondisinya kritis. Tanggul tersebut mengalami abrasi dan amblas secara bertahap. Panjang tanggul yang kritis tersebut mencapai 160 meter.

Ironisnya lagi, batu bronjong yang berfungsi penahan air juga mulai ambrol. Pondasi batu tersebut ambrol. Tiang beton sebagai kekuatan bronjong juga jebol. Jika hal itu dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan tanggul yang sudah menipis itu juga jebol.

“Kalau tanggul sampai jebol, dampaknya sangat membahayakan. Sekitar 7 ribu hektar lahan pertanian akan terendam. Kemudian lima desa yang ada di sekitar tanggul juga akan terdampak. Karena di balik tanggul tersebut merupakan pemukiman padat penduduk. Semisal Desa Jatiduwur, Jatipandak, Podoroto, Pojokrejo, Wuluh dan Desa Blimbing. Namun yang terdampak ada 14 desa,” kata Burhanudin, dari komisi Sumber Daya Air BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Brantas, Rabu (15/1/2020).

Atas kerusakan itu tanggul itu pula, tim dari BBWS dan Dinas PUPR Jombang melakukan pemantauan lokasi. Dengan mengendarai perahu, mereka menyisir tepian Sungai Brantas. Kepada wartawan, tim menunjukkan sejumlah titik tanggul yang kondisinya sudah kritis.

Daro pantauan tersebut terlihat batu-batu sebesar kepala yang berfungsi sebagai penguat tanggul mulai ambrol. “Ini karena pondasi tanggul sudah menggantung, sehingga bronjong ikut melorot. “Awalnya ketebalan tanggul mencapai 30 meter. Namun sekarang menipis, tinggal separuhnya,” kata Burhanudin menambahkan.

Tiang beton yang berfungsi sebagai kekuatan bronjong, roboh tergerus arus sungai. [Foto/Yusuf Wibisono]
Burhanudian mengungkapkan, bronjong tersebut dibangun pada 2018. Namun demikian, karena kuatnya gerusan ombak sungai, tanggul tersebut akhirnya rontok. Burhanudin juga mengatakan, bahwa kerusakan tersebut merupakan dampak jangka panjang dari pengerukan pasir Sungai Brantas secara liar.

Setelah, reformasi pengerukan pasir bukan hanya dilakukan secara manual, namun juga menggunakan mesin ponton. “Nah, dampak pengerukan tersebut kita rasakan sekarang. Dasar sungai menjadi berongga-rongga. Banyak palung-palung di dalamnya. Begitu disapu ombak besar, tanggung langsung ambrol,” ujarnya.

Apa yang dilakukan BBWS? Menurut Burhanudin, pihaknya selama ini sudah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Namun demikian, hal itu terbentur dengan anggaran. “Yang pasti masyarakat berharap kerusakan ini segera ditangani. Karena jika dibiarkan dampaknya cukup besar,” pungkas Burhanudin. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar