Peristiwa

Tak Dibayar, Pekerja Rusunawa di Malang Demo

Malang (beritajatim.com) – Puluhan pekerja untuk pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) bagi aparatur sipil negara (ASN) di Blok Office Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, berunjuk rasa, Selasa (8/1/2019) siang.

Bangunan Rusunawa untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Malang ini, dianggarkan sebesar Rp 16,1 miliar. Namun karena terlambat menerima upah, sekitar 75 pekerja pun kenggelar demo. Gaji pekerja bangunan Rusunawa pun tertunda sekitar 3 minggu lamanya.

Umar Basyori salah satu pekerja menjelaskan, dirinya beserta seluruh pekerja demo mogok kerja karena terus menerus di php (pemberi harapan palsu) oleh sub kontraktor atau mandor. “Kita terus dijanjikan pembayaran gaji kerja oleh mandor, tapi tidak pernah dilaksanakan tepat waktu dari dulu. Dulu kita masih bisa bersabar, tapi ini sudah berkali-kali,” kata Umar, Selasa (08/01/2019) di lokasi pembangunan Rusunawa ASN.

Bersama pekerja lainnya, Umar akhirnya memutuskan untuk berdemo mogok kerja. Serta meminta proses pembayaran gaji selama 3 minggu yang belum tuntas dibayarkan sub kontraktor. Kondisi tersebut membuat proses pembangunan Rusunawa ASN mandeg total. Bahkan pengiriman material yang dilakukan mangkrak di lokasi.

Hal sama dikatakan Teguh, pekerja asal Kepanjen. Bersama puluhan pekerja lainnya, mereka menyayangkan atas terus menerusnya pembayaran yang molor ini. “Ini bukan yang pertama kali. Tapi lama kelamaan kita juga tidak bisa bersabar terus. Orang di rumah menunggu hasil kerja kita,” ujar Teguh.

Seluruh pekerja akan terus melakukan mogok kerja kalau hak mereka tidak dibayarkan. Tentunya hal tersebut akan membuat progres pembangunan Rusunawa ASN semakin molor dari target penyelesaian. Yakni di bulan November 2018 lalu. Akumulasi protes pekerja di Rusunawa ASN juga didasarkan pada tidak adanya alat-alat perlindungan dan keselamatan kerja di lokasi pembangunan dengan 54 unit rumah type 36 berlantai empat. “Sudah bayaran telat-telat, kalau ada kecelakaan ya mati, mas,” sungut para pekerja.

Pembayaran pekerja di Rusunawa ASN menurut mandor di lapangan dibagi dua kategori. Pertama, kuli dengan bayaran Rp 75 ribu per hari dan tukang dibayar Rp 95 ribu. Total setiap minggu untuk pekerja harian, mandor membayar sekitar Rp 12 juta dalam seminggu. Sedangkan untuk pembayaran dari kontraktor yaitu PT Hala Hati Jakarta ke sub kontraktor memakai sistem progres.

Dimana setiap minggu, sub kontraktor membayar pekerja dengan cara cashbon. Minggu pertama dan kedua, sedangkan minggu ketiganya dilakukan pelunasan.

Widi konsultan pembangunan PT Ciria Jasa Jakarta secara tegas menolak apa yang disampaikan para pekerja. Dirinya menyatakan pembayaran upah dilakukan rutin sesuai progres fisik pembangunan. “Kalau tidak dibayar ya salah. Setiap minggu ada cashbon sampai minggu ke tiga pelunasannya,” ucapnya.

Dirinya juga menegaskan, pekerja seharusnya mengetahui bahwa proses pembayaran dilakukan sesuai progres. “Jadi dari kontraktor bayar sesuai progres. Masalah pembayaran ke pekerja seharusnya mandor yang sampaikan,” terangnya.

Widi pun secara tegas mengatakan, alat-alat perlindungan dan keselamatan kerja juga dipersiapkan. “Tapi, di lapangan malah tidak pernah dipakai pekerja,” imbuhnya. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar