Peristiwa

Suka Duka Penjaga Perlintasan Sukarela di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Salah satu perlintasan Kereta Api (KA) tak memiliki palang pintu di Mojokerto yakni di Dusun Damarsih, Desa Kepuh Anyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Perlintasan sempat viral lantas aksi dua penjaga sukarela menendang pengendara sepeda motor.

Meski tak mendapatkan gaji langsung dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), namun keselamatan para pengendara yang melintas di perlintasan ini menjadi tanggungjawab mereka. Ada tujuh warga sekitar yang setiap dua hari sekali ganti shift untuk menjaga perlintasan.

Perlintasan tak berpalang pintu ini mulai ada penjaga sejak 19 tahun lalu atau sejak Kecamatan Mojoanyar yang sebelumnya bergabung dengan Kecamatan Puri berdiri sendiri. Suka duka menjadi penjaga perlintasan tak berpalang pintu sukarela pun mereka rasakan.

Ialah Aminin (53) dan Alm Rustaman warga Dusun Damarsih, Desa Kepuh Anyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto yang menjadi penjaga perlintasan tak berpalang pintu di Damarsih ini. “Dulu tidak ada yang jaga,” ungkapnya, Sabtu (18/5/2019).

Ada penjaga, lanjut Aminin, setelah berdiri Kecamatan Mojoanyar. Aminin bercerita, saat itu Camat Mojanyar, Aminudin yang meminta menjaga perlintasan saat lebaran kala itu. Karena banyaknya warga yang melintas di perlintasan tak berpalang pintu tersebut.

“Sudah ada lebih dari 30 nyawa melayang sebelum ada yang jaga, sekitar 19 tahun baru ada penjaga. Sejak ada Kecamatan Mojoayar, Pak Camat Mojoanyar yang minta menjaga. Lebaran suruh jaga, pas ramainya arus mudik. Waktu itu dikasih Rp200 ribu,” katanya.

Saat itu, ia bersama almarhum membawa tong sembari memperingatkan para pengendara yang melintas berhati-hati saat kereta lewa. Ternyata, lanjut Aminin, banyak pengendara yang melintas memberi uang dengan cara memasukan ke dalam tong yang mereka bawa.

“Karena banyak yang kasih, akhirnya diteruskan. Kemudian Polres Mojokerto bangun pos pas Pak Kasat Lantas Guritno. Dulu cuma ada dua orang yang jaga, saya sama almarhum, sekarang almarhum digantikan anaknya dan sekarang ada 7 orang penjaga sukarela,” urainya.

Sekarang, lanjut Aminin, yang jaga ganti shift dua hari sekali yakni sebanyak tiga orang. Namun saat malam hari, ditambah satu orang karena saat malam di sekitar lokasi gelap ditambah ngantuk menjadi masalah. Saat itupun sudah dipasang sirine oleh PT KAI.

“Tapi kadang bunyi kadang tidak, sudah dipasang 5 tahun lalu sehingga ada jadwal KA ditempel di pos sehingga kita tahu jadwal kereta lewat. Peralatannya, kita pakai bendera merah, tongkat lampu dan pluit. Peralatan ini beli sendiri. Yang paling bikin kesel, ada pengendara yang menerobos,” tuturnya.

Seperti yang beberapa hari lalu viral di media sosial (medsos). Di perlintasan kereta tak berpalang Dusun Damarsih lah, penjaga perlintasan terpasang menendang pengendara motor yang menerobos sesaat kereta akan lewat dari Stasiun KA Mojokerto.

“Sering karena alasan mereka kereta masih jauh, padahal yang lain sudah berhenti. Ini sangat berbahaya. Semua karena kesadaran, kalau saya berharap tidak dikasih palang pintu. Kalau dikasih pasti ada pegawai yang jaga, kita tidak akan mendapat rezeki dari sini,” lanjutnya.

Menurutnya, rata-rata pendapatan para penjaga perlintasan sukarela setiap hari sekitar Rp300 ribu. Uang sebesar Rp300 ribu tersebut dibagi tiga orang. Pengalaman tersebut juga dirasakan penjaga sukarela yang sempat menjadi perbincangan netizen.

Yakni M Ridwan (26) dan M Eko Adi Gunawan (21). “Ya seperti kemarin, saat itu antara pukul 11.00 WIB hingga 12.00 WIB. Sirine peringatan kereta sudah berbunyi, dari sisi kanan dan kiri pengendara sudah berhenti. Eh ada yang menerobos,” tuturnya.

Sehingga keduanya spontan menghalau dan viral di medsos karena ada pengendara lain yang merekam aksi mereka dan membagikan ke medsos. Menurutnya, hal tersebut banyak ditemui bahkan ada yang berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menerobos.

“Semoga kejadian kemarin menjadi pelajaran bagi yang lain. Disini untuk penjagaannya dilakukan oleh sukarelawan, ada tujuh orang yang berganti shift setiap dua hari sekali untuk menjaga perlintasan tak berpalang pintu ini,” jelasnya.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar