Peristiwa

Separo Abad Pesantren Al Makbul Malang Ajarkan Kitab Kuning

Malang (beritajatim.com) – Pesantren Raudlotul Muhsinin atau akrab dan populer disebut Pesantren Al Makbul, berada di Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Pada Sabtu (20/4/2019) siang ini, Pesantren Salafiyah ini punya gawe. Ya, lebih dari 3.500 santri, alumni, jamaah dan masyarakat sekitar Pesantren, menggelar Kirab Santri memperingati Harlah Pondok yang ke-50 tahun.

Separuh abad Pesantren Makbul berdiri, justru jarang terekspose media massa. Publik bahkan belum banyak yang tahu jika Pesantren tersebut, sudah melahirkan ribuan alumni. “Kalau jumlah alumni kami banyak ya. Ribuan. Karena pesantren ini sudah berdiri sejak tahun 1969 lalu,” ungkap Ketua Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Muhsinin, H.Ahmad Basori, ditemui beritajatim.com selepas Kirab Santri, Sabtu (20/4/2019) siang.

Lokasi Pesantren memang tidak berada di pinggir jalan raya besar. Namun bagi warga Kabupaten Malang khususnya di Desa Kuwolu, nama Ponpes Al Makbul sudah sangat kesohor. Majlis Taklim rutin setiap minggunya, mampu menghadirkan ribuan jamaah.

Sejak diasuh oleh pendiri Pesantren yakni KH.Muhsin Syafi’i, sampai detik ini Pesantren Makbul masih eksis mengajarkan Kitab Kuning. “Fokus pembelajaran di Pondok Makbul yakni kitab kuning. Memang selama ini kami jarang terekspose media dan juga tidak banyak diketahui masyarakat umum. Padahal pondok kami ini basis NU terbesar yang masih mengajarkan kitab kuning,” terang Basori.

Basori menjelaskan, santri rata-rata baru keluar atau meninggalkan Pesantren ketika sudah menikah. Jadi selama itu, mereka khusus mempelajari kitab kuning. “Batas waktu mempelajari kitab kuning memang cukup lama. Paling cepat 12 tahun. Kirab Santri hari ini sebetulnya ide para alumni dan santri. Kami merasa dengan cara inilah kita ingin bersama masyarakat menjaga NKRI agar tetap bersatu padu,” terang Basori.

Kitab kuning dalam pendidikan agama Islam, merupakan rujukan pada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam atau madrasah al-islamiyah. Materi yang diajarkan pondok seperti Al Makbul ini, mulai dari ilmu fiqih, aqidah, akhlaq atau tasawuf dan bahasa arab. Khusus bahasa arab terdiri dari ilmu nahwu dan sharf. Kemudian masih ada beberapa hadits, tafsir dan ulumul qu’ran yang harus dipelajari para santri.

Termasuk, santri juga diajarkan pada ilmu sosial kemasyarakatan (muamalah). Kitab kuning juga dikenal dengan sebutan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat. Sehingga, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lebih lama.

“Kami sebagai santri juga bisa, mampu memberikan sesuatu yang dibutuhkan bangsa ini. Untuk menyikapi perbedaan-perbedaan pada bangsa ini, kami selaku santri tahu betul bagaimana harus menyikapi sebuah perbedaan,” beber Basori.

Harlah ke-50 Pesantren Al Makbul tahun ini, untuk menyatukan seluruh alumni dan santri. “Kami eksis mengajarkan kitab kuning karena dukungan dari alumni dan juga jamaah pondok. Pesan dari kirab ini, kita tetap mengedepankan akhlakul karimah dan ukhuwah bagi kemanusiaan dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Pesantren Al Makbul adalah Pesantren Salafiyah yang masih eksis mengajarkan kitab kuning sampai detik ini. Pendiri Pesantren Al Makbul yakni KH. Muhsin Syafi’i. Sepeninggal Kiai Muhsin, pemangku Pondok Pesantren Salaf terbesar di Kabupaten Malang ini, diteruskan oleh dua orang putranya yakni KH. Suadi Muhsin dan KH.Lukman Muhsin.

Jumlah santri aktif putra di Pesantren Al Makbul sampai hari ini berkisar 1000 orang. Sementara santri putri sebanyak 800 orang. Satu orang santri, minimal menghabiskan waktu selama 12 tahun untuk mempelajari ilmu agama termasuk kitab kuning. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar