Peristiwa

Semburan Gas Sumur Tua di Desa Sekarkurung Gresik Masih Aman

Kepala SKK Migas Jabanusa Nurwahidi (dua dari kiri) dan Bupati Gresik Sambari Halim Radianto (sebelah kanan) saat Mengunjungi Semburan Sumur Tua Bercampur Air Lumpur di Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas, Gresik. [Foto: Deni/beritajatim]

Gresik (beritajatim.com) – Semburan gas sumur tua yang berlokasi di Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas, Gresik, masih aman. Kepastian itu disampaikan Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto dan Kepala SKK Migas Jabanusa saat mengunjungi semburan gas bercampur air lumpur di lahan milik Hj. Fatimah Azzahrah.

Kepala SKK Migas Jabanusa Nurwahidi mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada masyarakat dan Pemkab Gresik atas respon yang cepat serta langsung berkordinasi terkait dengan kejadian ini. Sehingga, bisa diantisipasi.

“Semburan gas yang bercampur air lumpur yang muncul di sumur tua tersebut masih aman dan sudah dilokalisir. Masyarakat tidak usah kuatir karena semburan gas itu bersifat low explosive level. Jarak 5 meter sudah tidak bau lagi,” katanya kepada wartawan, Minggu (22/9/2019).

Lebih lanjut Nurwahidi mengatakan, sebaiknya sumur minyak tua tersebut tidak ditutup. Apalagi sampai ditutup dengan cor beton. “Masyarakat masih berpikiran kalau sudah ditutup pakai beton sudah aman. Padahal, belum tentu sebaiknya segera dilaporkan supaya terus dimonitor,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan sumur tua di sejumlah daerah masih banyak. Untuk itu, SKK Migas Jabanusa berharap pemerintah daerah memberikan input data. Mana saja sumur tua yang sudah tidak berproduksi maupun yang masih dieksploitasi secara tradisional.

“Saya berharap kepada Pemkab Gresik dan masyarakat agar selalu melakukan monitoring terhadap beberapa sumur minyak tua yang ada di Gresik,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Sambari Halim Radianto menyatakan semburan itu diketahui sejak empat hari lalu. Saat itu dirinya ada kegiatan di luar daerah.

“Syukur alhamdulillah, semburan ini tidak berdampak, kami berharap semburan ini bisa bermanfaat untuk masyarakat maupun pemerintah. Saya minta kepada tiga pilar yaitu pihak pemerintah kecamatan, Koramil dan Polsek Kebomas ditambah Satpol PP serta Damkar Gresik untuk mengamankan dan mengantisipasi semua yang terjadi agar dapat meminimalisir dampak ke masyarakat,” ungkapnya.

Sambari juga memerintahkan kepada pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) Gresik untuk mengambil tiga sampel air semburan dari tiga sudut berbeda masing-masing 10 liter. Air itu diperiksakan ke laboratorium milik PHE, laboraturium milik SKK Migas dan laboraturium milik BLH Gresik.

Sebelumnya, Sambari telah memerintahkan kepada BLH Gresik untuk berkoordinasi dengan PHE dan SKK Migas. Dari hasil koordinasi tersebut pihak berwenang telah membongkar lokasi semburan yang selama ini tertutup. Kemudian menggali semacam penampungan, dan melokalisir semburan dengan dengan membuat tanggul yang terbuat dari karung pasir memutari area semburan.

“Menurut pihak PHE dan SKK Migas hanya mengandung 0,03 persen. Gas ini tidak terlalu tinggi yaitu hanya sekitar 40 cm. Atas izin Kepala Desa setempat dan pemilik lahan, pemerintah telah memasang blower yang tujannya agar gas yang keluar tidak terkonsentrasi di satu titik,” urainya. [dny/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar