Peristiwa

Ribuan Warga Gresik Dengarkan Tauziah Gus Mus dan Cak Nun

Gresik (beritajatim.com) – Ribuan warga Gresik, khususnya dari Kecamatan Bungah dan Sidayu, tumplek blek mendengarkan tauziah KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) serta Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam tauziahnya, Gus Mus lebih banyak menggambarkan Indonesia yang melimpah kekayaan sumber daya alamnya, merupakan perwujudan dari sifat rahman dan rahim dari Allah SWT. Untuk itu, perlu dikelolah dan dimanfaatkan yang benar untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

“Tuhan masih tampil dengan sifat rahman rahim. Kalau ada orang salah dibiarkan saja sampai sadar. Pejabat yang korupsi masih bisa bebas berkeliaran,” ujar KH Mustofa Bisri, dalam tauziahnya di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di lapangan HSS Jalan Raya Bungah-Sidayu, Senin malam (16/12/2019) kemarin.

Menurut Gus Mus-sapaan akrabnya- kalau Allah SWT menggunakan sifat Al Muntakim, maka makhluk ciptaan-Nya akan babak belur. Sebab, ketika membuat kesalahan seketika dihukum sesuai dengan perbuatan kesalahanya.

“Kita bisa benjol semua. Salah sedikit langsung dihukum,” kelakarnya.

Sifat Allah SWT yang rahman dan rahim itu, sambung dia, berbeda dengan perilaku ustad di Jakarta yang mudah memvonis seseorang ketika perjalanan menuju kebenaran. Padahal, banyak sekali kisah Rasulullah SAW yang sangat bijaksana.

“Nanti, ada saatnya Tuhan tak rahman rahim. Tapi Al Muntakim,” papar dia.

Nabi Muhammad SAW, kata Gus Mus, adalah pemimpin yang manusia yang bisa memanusiakan manusia. Dimana bisa menempatkan segala sesuatu dengan tepat. Dirimya mencontohkan, selama menjadi iman salat berjamaah, tidak pernah ada makmum yang ngrasani.

“Sekarang, banyak pemimpin yang seakan-akan manusia. Karena Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengetahui kalau menjadi iman tak perlu bacaan surat yang panjang-panjang. Sebab, makmum terdiri dari berbagai macam orang,” ungkapnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Emha Ainun Najib atau akrab dipanggil Cak Nun. Ia mengatakan, banyak pemimpin yang tak meneladani Rasulullah Muhammad SAW ketika 10 tahun memimpin setelah ada kesepakatan perjanjian madaniyah. Bahkan, telah terjadi adopsi demokrasi dari negara barat yang sangat berbeda dengan ideologi Pancasila. Sebab, demokrasi adalah kebebasan tanpa ada batasan-batasan.

“Pancasila adalah kebebasan dengan batasan kepatuhan kepada Allah SWT. Jadi demokrasi dan Pancasila beda,” tuturnya.

Sementara itu, H Saiful Arif sebagai penyelenggara kegiatan Ngaji Bareng Gus Mus, Cak Nun dan Kiai Kanjeng menegaskan, bahwa generasi milenial sebagai penerus bangsa, utamnya jamiyah Maiyah, bisa belajar lebih fokus lagi dan memanage lagi setelah belajar mengenal Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

“Saya menggugah generasi muda di Maiyah akan kesadaran pikiran kita bahwa Indonesia di rahmati Allah SWT dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah,” tukasnya.

Sejarah sudah mencatat Indonesia dikeruk kekayaan alamnya oleh penjajah selama 350 tahun. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, kekayaan alam yang terkandung di bumi Indonesia, juga dihabisi.

“Kita mencari pimpinan pada tahun 2024, yang benar-benar memikirkan kelangsungan anak cucu kita. Siapa lagi yang menjaga kalau bukan auliyah. Mudah mudah generasi milineal adalah bagian dari Indonesia yang di rahman rohimi oleh Allah SWT,” pungkas Saiful Arief. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar