Peristiwa

Rekontruksi Kasus Penganiayaan Santri Hingga Meninggal di Mojokerto Digelar Secara Tertutup

Rekontruksi kasus penganiayaan santri hingga tewas di Mojokerto digelar secara tertutup. Foto : misti/prihatini

Mojokerto (beritajatim.com) – Anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto menggelar rekonstruksi kasus penganiayaan santri hingga tewas, Sabtu (24/8/2019). Rekonstruksi dilakukan secara tertutup.

Sejumlah awak media di Mojokerto yang datang ke lokasi Pondok Pesantren (ponpes) Mamba’ul Ulum Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto dilarang masuk halaman ponpes. Tampak security ponpes berjaga di depan gerbang.

Sementara di dalam halaman sejumlah polwan tampak berjaga. Rekontruksi sendiri dilakukan di kamar, lokasi penganiayaan terhadap, AR (17) santri asal Desa Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo dilakukan tersangka WN (17).

Yakni santri senior asal Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tampak dari depan gerbang ponpes, tersangka yang dibawa menggunakan mobil diturunkan di halaman ponpes dan dibawa ke lokasi. Dengan tangan terborgol dan kaos orange, tersangka dibawa.

Proses rekontruksi sendiri juga tampak dihalangi pihak ponpes. Pengurus santri laki-laki, Machrudin Akbar terlihat meminta sopir truk Yayasan Mamba’ul Ulum memarkir kendaraannya dengan tujuan menghalangi awak media mengambil gambar.

Rekontruksi yang dipimpin Kanit Tipikor Satreskrim Polres Mojokerto, Iptu Nurudin tersebut tak berlangsung lama. Namun, tidak ada yang bersedia memberikan keterangan terkait rekontruksi kasus penganiayaan santri hingga tewas tersebut.[tin]

Apa Reaksi Anda?

Komentar