Peristiwa

Rekonstruksi Penganiayaan Santri di Mojokerto, Pelaku Jalani 14 Adegan

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Muhammad Sholikin Fery saat memberikan keterangan terkait penganiayaan santri. [Foto : misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Rekontruksi kasus penganiayaan santri Pondok Pesantren (ponpes) Mamba’ul Ulum Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto digelar secara tertutup, Sabtu (24/8/2019). Pelaku anak (tersangka sebelumnya, red) menjalani 14 adegan.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Muhammad Sholikin Fery mengatakan, pelaku anak menjalani 14 adegan. Adegan itu diawali saat pelaku anak datang. “Ada 14 adegan yang diperagakan dalam rekontruksi tersebut. Mulai dari kedatangan pelaku anak,” ungkapnya.

Masih kata Kasat, antara pelaku anak dan saksi merupakan usia di bawah 18 sehingga pihaknya harus menghargai UU Sistem Peradilan Anak. Dalam rekontruksi, pelaku anak memerankan 14 adegan menerangkan memang benar dugaan pidana penganiayaan.

“Pada intinya si pelaku melakukan kekerasan dengan cara menendang. Empat kali menendang, satu kali saat duduk dan tiga kali saat sudah terletak di lantai. Kurang lebihnya seperti itu, mohon maaf saya tidak bisa menceritakan secara lebih detail lain terkait dengan anak. Silahkan kalau yang lain,” tegasnya.

Dalam kasus penganiayaan tersebut, lanjut Kasat, pelaku anak dijerat Pasal 351 ayat 3 dan Pasal 80 UU Perlindungan Anak ancaman 7 tahun dan 12 tahun penjara. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar