Peristiwa

Tradisi Maulid Nabi

Ratusan Warga di Mojokerto Berebut Aneka Barang di Pohon Kersen

Ratusan warga berebut barang yang tergantung di pohon kersen. [foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan warga berebut barang-barang yang tergantung di dua pohon kersen yang sengaja ditanam di tengah Jalan Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ini merupakan tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya kaum bapak, pemuda dan anak-anak, namun emak-emak pun ikut berebut barang-barang yang ada di pohon kersen. Alhasil, mereka berebut tempat terdepan untuk mendapatkan barang incarannya. Panitia menyediakan dua pohon kersen.

Dua pohon kersen yang di tanam di tengah jalan dusun tersebut digantungi berbagai barang kebutuhan. Seperti baju, sarung, kopyah, uang, sendal, sepatu, jeruk, nanas, kelapa, alat dapur hingga daster emak-emak. Riuh suara warga yang berebut pun pecah saat pohon kersen tersebut patah.

Ini lantaran, pohon yang dipercaya mengandung makna filosofi yang cukup dalam ini tak kuat menahan beban. Saat puluhan warga naik ke pohon kersen untuk berebut mengambil barang-barang yang tergantung di pohon tersebut.

Panitia tradisi kersen, Muhammad Taufik (45) mengatakan, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Dusun Mengelo tersebut sudah ada sejak 1960. “Pagi tadi kita salawat bersama, kemudian pawai keliling kampung dan terakhir ini,” ungkapnya, Sabtu (9/11/2019).

Masih kata Taufik, setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, warga Dusun Mengelo selalu menggelar tradisi kersen. Bahkan warga yang bekerja di luar kota, pulang kampung untuk mengikuti tradisi tersebut. Mereka juga terlibat menyukseskan peringatan Maulid Nabi.

“Mereka yang bekerja di luar kota dan sukses, sengaja pulang dan ikut menyumbangkan hasilnya untuk perayaan kersan ini. Pohon kersen ini pun sudah disiapkan warga jauh hari sebelumnya, warga dilarang menebang pohon kersen berukuran besar,” katanya.

Ini lantaran, lanjut Taufik, pohon itulah yang nantinya bakal digunakan dalam perayaan kersan di tahun berikutnya. Pohon kersen dipilih karena pohon tersebut memiliki buah yang cukup banyak sehingga diharapkan warga Dusun Mengelo mendapatkan berkah dan rezeki yang melimpah ruah

“Tidak ada yang menolak, karena memang sejak dulu sudah bergilir. Kalau untuk sepatu, sandal, kopyah, yang dijadikan hadiah ini merupakan produk lokal. Karena warga di Mengelo, mayoritas perajin sepatu, sandal, sarung dan kopyah,” jelasnya.

Karena digelar tiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, lanjut Taufik, sehingga momen tersebut ditunggu warga tak hanya Dusun Mengelo. Namun juga dari luar desa. Ini bisa dilihat setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar selalu dipenuhi warga.

Salah satu warga, Abdul Majid (46) mengatakan, ia sengaja datang dari Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto untuk mengikuti tradisi kersan di Dusun Mengelo. “Saya sejak kecil, selalu datang kesini. Dulu diajak bapak, sekarang saya ajak anak dan istri saya,” tuturnya.

Ia percaya, barang-barang yang didapat dari tradisi kersen tersebut memiliki berkah. Ia sengaja membawa anak dan istrinya agar mereka mengenal dan merawat tradisi kersan yang ada di Dusun Mengelo. Majid pun berharap, tradisi kersan tersebut tetap bisa lestari. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar