Peristiwa

PT Adi Karya Persero Diprotes Warga Sampang

Sampang (beritajatim.com) – Proyek Normalisasi sungai Kemuning dilaksanakan secara Multi Years Contrak (MYC) selama tiga tahun, terhitung mulai 2017 hingga 2019. Tetapi di ujung perjalanannya, ternyata menyisakan persoalan terkait lahan warga di jalan Tase’an, Desa Paseyan, Kecamatan/Kabupaten Sampang. Yaitu berupa penolakan lahan warga terdampak normalisasi sungai Kemuning atas nama Moh Taufik, Desa Paseyan, Kecamatan Sampang Kota.

Kejadian itu, membuat Satpol PP bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan pihak pelaksana PT Adi Karya Persero mendatangi rumah Kepala Desa Pasean untuk melakukan koordinasi terkait penolakan tersebut.

Tomi Andi Rayon Kepala Desa Paseyan menjelaskan, Berdasarkan data kami di Desa Pasean, lahan warga kami yang terdampak normalisasi sungai Kamuning mencapai 200 warga.

“Memang yang melakukan protes agak keras baru Moh Taufik, sedangkan warga yang lain masih bisa diredam selama ada proses ganti rugi terhadap lahan warga namun hingga saat ini masih belum dilakukan oleh pemerintah daerah.” jelas Tomi, Selasa (12/3/2019).

Sementara Moh Jalil Kasi Penyidik dan Penindakan Satpol PP Kabupaten Sampang saat memimpin pengamanan di lokasi sempat diprotes warga. Dia mengatakan hanya menjalankan perintah dan menyampaikan layangan surat kedua pada Moh Taufik selaku warga yang menolak.

“Sesuai perda nomor 7 tahun 2015, tentang ketertiban dan ketentraman masyarakat, pasal 8 ayat (1) (2) dan pasal 113 KUHP, dan yang bersangkutan untuk menghadap ke kantor Satpol PP guna klarifikasi atas kepemilikan lahan di Bantaran sungai Kamuning, namun hingga surat panggilan kedua yang bersangkutan tidak hadir,” ujarnya.

Di tempat yang sama Sumarno selaku pelaksanaan lapangan PT Adi Karya Persero mengatakan, dia sebagai pelaksana hanya menjalankan kegiatan sesuai gambar yang sudah ada. Dari total kegiatan yang harus diselesaikan sepanjang 4.8 km, sedang untuk Desa Paseyan, panjangnya 1.5 km, dan yang masih belum selesai terkendala lahan warga untuk jalan inspeksi kurang lebih 300 m yang berada di jalan Tase’an.

“Kami sebagai pelaksana terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, agar menemukan solusi yang terbaik,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, normalisasi sungai Kamuning, yang dikerjakan mulai tahun 2017 dengan rinciannya, tahun 2017 nilai kontrak senilai Rp 8,3 miliar, tahun 2018 Rp 73 miliar, dan tahun 2019 sebesar Rp 284 miliar. Sedangkan pelaksana pekerjaannya dibagi menjadi dua paket. Paket I dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Adi Karya Persero dengan total nilai kontrak selama tiga tahun sebesar Rp 205,4 miliar. Sedangkan, paket II dikerjakan PT Rudi Jaya dan PT Jati Wangi dengan total nilai kontrak Rp 159,9 miliar. [sar/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar