Peristiwa

Pohon Menangis Bikin Heboh Warga Puger Jember

Jember (beritajatim.com) – Masyarakat di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur dihebohkan oleh pohon akasia yang mengeluarkan suara seperti tangisan.

Pohon ini tumbuh setinggi 20 meter dan garis tengah 50 centimeter di halaman belakang rumah Wardi (83), warga Dusun Krajan, Desa Mojosari. “Pohonnya berusia lima tahun dan baru ‘menangis’ sekitar seminggu lalu,” kata Mawardi (40), cucu menantu Wardi, Jumat (17/1/2020).

Menurut Mawardi, orang yang pertama kali mendengar suara seperti tangisan itu adalah Aldi Fari, keponakannya yang berusia tiga tahun. “Dia bermain di belakang rumah. Lari bilang ke ibunya, kalau ada orang menangis,” katanya.

Homsinah, sang ibu, semula tidak percaya. Namun ia mengalah dan mengikuti ajakan Aldi untuk mengecek ke pohon itu dan memang mendengar suara seperti tangisan. “Akhirnya cerita ke tetangga dan keluarga,” kata Mawardi.

Mawardi sendiri baru mendengar sendiri suara yang seperti suara tangisan remaja itu kemarin. Ia dekatkan telinganya dengan jarak lima centimeter dari batang pohon. “Saya sendiri percaya tidak percaya,” katanya.

Mawardi tidak tahu penyebab suara tangisan. “Polisi sudah mengecek, takut ada faktor penipuan. Ternyata tidak ada. Itu alami,” katanya. Dia menduga suara berasal dari gesekan dedaunan antar pohon akasia dan pelepah kelapa saat angin berembus. Pasalnya, saat angin tak berembus, suara tangisan itu tak terdengar.

Pohon menangis ini bikin heboh setelah viral di media sosial Facebook. Mereka berbondong-bondong ke rumah tersebut. Mereka ingin membuktikan sendiri. Mawardi tak memungut biasa sepeser pun bagi warga yang datang dan ingin mendengar.

Mawardi membantah jika itu pohon keramat. “Itu pohon akasia biasa,” katanya.

Mawardi berusaha agar tak banyak yang datang. “Saya beri arahan kalau itu suara kayu bergesekan,” katanya.

Kepala Kepolisian Sektor Puger Ajun Komisaris Ribut Budiyono sempat mendatangi rumah Wardi untuk mengecek. “Kami berkoordinasi dengan pemilik pohon akasia supaya pohon tersebut dipotong agar tidak dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk kepentingan pribadi,” katanya.

Polisi khawatir ‘pohon menangis’ ini akan dimanfaatkan pihak ketiga untuk kegiatan berbau mistis. Polisi juga mewaspadai munculnya kasus pencurian kendaraan bermotor, karena banyaknya warga yang datang dan memarkir kendaraan dekat lokasi pohon.

Polisi juga berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan musyawarah pimpinan kecamatan agar memberikan sosialisasi bahwa tak ada yang istimewa dari pohon itu. “Kami memberikan pemahaman di media sosial terkait fenomena pohon menangis, supaya masyarakat berpikir secara logis,” kata Ribut. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar