Peristiwa

Petaka di Ujung Sore, Atap Rumah Hilang Dalam Sekejap

Sejumlah relawan penanggulangan bencana sedang membantu melakukan permbersihan sisa bencana di rumah yang atapnya terbawa angin, Minggu (1/12/2019). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Rumah yang dihuni oleh Winda Makhfiatul Anggraini (25) kini hanya beratap langit. Padahal sebelumnya, rumah berukuran empat kali tujuh meter itu beratap genting dengan penyangga ‘kuda-kuda’ dari kayu. Ruangan yang ada di rumah tersebut juga porak-poranda. Genangan air hujan masih tersisa di beberapa bagian.

Perubahan dramatis itu terjadi pada Rabu (30/11/2019) sore. Semua berawal saat hujan deras mengguyur Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang. Sesekali halilintar menyambar-nyambar. Winda di rumah sendirian sembari menggendong anaknya yang masih berusia 2,5 tahun. Sang suami, Imam Maliki (33), belum pulang dari kerja. Sedangkan ayahnya, Chamim (72), masih berada di sawah.

Dalam kepungan hujan yang cukup deras, hati Winda gundah gulana. Dia hendak tidur untuk mengusir keresahannya. Namun suasana hatinya tidak enak. Ada dorongan yang memintanya untuk keluar dari rumah tersebut. Ibu satu anak ini kemudian menuruti kata hatinya. Sembari menggendaong sang anak yang bernama Saka, Winda keluar dari rumah.

Nah, saat berada di luar rumah, warga Dusun Ngrumek, Desa Nglele ini melihat dengan kepalanya sendiri kejadian yang cukup menakutkan. Angin kencang bergulung-gulung. Warnanya putih disertai suara gemuruh. Sejurus kemudian dia melihat atap rumah miliknya seperti terlipat. Atap beserta kerangkanya itu diangkat oleh angin kencang, lalu dihempaskan sejauh 100 meter.

Tentu saja, dalam hitungan menit, rumah beratap genting itu berubah beratap langit. Air hujan dengan laluasa memasuki rumah tersebut. “Kejadiannya sangat cepat. Saya sempat melihat atap rumah itu terlipat, kemudian dihempas angin. Terbang sejauh 100 meter. Bagian atas rumah saya habis semua,” kata Winda sembari menunjukkan rumahnya yang ‘gundul’, Minggu (1/12/2019).

Ketika hujan reda, ketakutan Winda belum juga sirna. Dia baru lega ketika ayahnya kembali dari sawah. Karena rumahnya berantakan, Winda beserta keluarganya akhirnya tidur dengan cara menumpang di rumah tetangga. “Semalam tidur di rumah tetangga. Karena rumah saya tidak bisa ditempati,” katanya lirih.

Winda sedang menggendong anaknya di depan rumahnya yang tak beratap, Minggu (1/12/2019). [Foto/Yusuf Wibisono]
Hingga Minggu pagi, sisa-sisa bencana masih terlihat di Desa Ngelele. Dahan pohon tumbang teronggok di tepi jalan. Puluhan relawan dan petugas dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) bergotong-royong memperbaiki rumah-rumah yang rusak akibat bencana.

Berdasarkan data BPBD, rumah yang rusak ringan akibat puting beliung di Dusun Ngrumek sebanyak 12 unit. Sedangkan yang rusak berat sebanyak satu unit, yakni rumah milik Chamim, orangtua Winda. Selain rumah warga, puting beliung juga menghancurkan atap MTsN 12 Jombang yang notabene berada di Desa Ngelele. Sedikitnya empat bangunan di sekolah tersebut gentingnya rontok. Beruntung, saat kejadian tidak ada kegiatan belajar mengajar. Seluruh murid sudah pulang.

Bukan itu saja, terdapat tiga orang yang mengalami luka ringan karena kejatuhan reruntuhan rumah. Para korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. “Untuk rumah yang rusak parah, yakni milik Pak Chamim, akan kita berikan bantuan berupa material bangunan. Sedangkan pengerjaannya dilakukan secara gotong-royong,” kata Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab saat mendatangi rumah milik Chamim yang dihuni bersama anaknya. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar