Peristiwa

Peringati Hari Pahlawan, PMII Ponorogo Gelar Aksi Damai

Massa PMII Ponorogo melakukan aksi di depan patung macan.(foto : Endra Dwiono).

Ponorogo (beritajatim.com) – Ada banyak cara untuk memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, Minggu (10/11/2019). Salah satunya yang dilakukan oleh PMII Ponorogo, mereka menggelar aksi damai dibeberapa titik di kawasan bumi reyog. Saat berada di depan patung macan, jalan Aloon-aloon utara, selain melakukan orasi mereka juga melakukan teatrikal. Teatrikal yang menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah.

“Teatrikal ini menggambarkan suasana saat pengibaran bendera Indonesia di hotel Yamato, dan tewasnya Jendral AWS Mallaby oleh pasukan Indonesia,” kata koordinator lapangan lAdin Ayatulloh Al Azmi usai aksi damai, Minggu siang.

Setelah berorasi di depan patung macan, puluhan massa dari PMII Ponorogo melanjutkan aksi untuk melakukan doa dan tabur bunga di makam Batoro Katong. Adin mengungkapkan sebenarnya sebelum ke makam Batoro Katong, ada agenda untuk ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Wira Patria Paranti. Namun niat itu diurungkan karena, TMP yang berada di jalan Pahlawan Kelurahan Bangunsari Ponorogo tersebut sedang diadakan upacara peringatan hari Pahlawan. “Jadi kami langsung ke makam Batoro Katong untuk melakukan doa dan tabur bunga,” katanya.

Tujuan aksi damai di hari Pahlawan ini, kata Adin untuk menumbuhkan kembangkan semangat mahasiswa atau pemuda dalam memperingati hari Pahlawan. Karena sekarang ini mahasiswa atau pemuda cenderung mengabaikannya. Acuh terhadap peristiwa besar masa lalu yang menjadi titik balik kemerdekaan untuk Indonesia.

“Kami mencoba memaknai dan merenungi perjuangan bangsa ini dalam mengusir penjajah dulu. Bahkan perjuangannya sampai titik darah penghabisan,” katanya.

Pemuda atau mahasiswa sekarang seharusnya, kata Adin bisa mengimplementasikan perjuangan dengan meneruskan perjuangan pahlawan di era mengisi kemerdekaan seperti sekarang ini. Tentu meneruskan perjuangan ini tidak sama dengan yang dulu, dimana rakyat pada masa itu mengangkat senjata untuk mengusir penjajah. “Melakukan kegiatan dan diskusi tentang pendidikan yang lebih baik untuk Indonesia, juga sebagai bentuk meneruskan perjuangan pahlawan yang telah gugur,” pungkasnya. (end/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar