Peristiwa

Pendukung Jokowi Tahlilan di Halaman Gedung DPRD Jember

Jember (beritajatim.com) – Sejumlah pendukung Calon Presiden Joko Widodo menggelar tahlil dan doa bersama di halaman gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Kamis (11/4/2019). Salah satu yang memimpin doa bersama adalah Jumadi Made, calon legislator Partai Hanura yang sempat bikin heboh karena mengancam bakal menghadang Rocky Gerung beberapa waktu lalu.

Aksi tahlil dan doa bersama ini digagas Ketua Forum Masyarakat Tertindas (Format) Kustiono Musri yang selama ini dikenal sebagai pendukung duet Jokowi dan Ma’ruf Amin. Mereka menuntut kejelasan sikap DPRD Jember terkait dengan viralnya video Bupati Faida yang menyinggung 50 anggota parlemen.

“Dari perjalanan politik di kabupaten, sudah mentok rasanya, sehingga kami tak punya cara lain kecuali mengembalikan (penyelesaian persoalan) kepada Sang Pencipta yang memiliki segalanya untuk kemudian menggerakkan para pihak,” kata Kustiono.

Kendati hanya diikuti 12 orang, aksi itu dikawal sejumlah polisi yang berjaga tepat di depan pintu masuk DPRD Jember. “Di mata bupati, 50 orang anggota DPRD ribut terus, tak mau sinkron dengan bupati, karena 50 anggota DPR itu mau suap. Bupati lupa, menurut konstitusi, DPR tidak boleh mesra dengan eksekutif,” kata Kustiono.

Dalam video tersebut, Bupati Faida sedang berbicara dalam rumah salah satu warga dan dikelilingi beberapa orang. Wajah Abdul Rohim, suaminya dan calon legislator DPR RI dari Partai Nasional Demokrat, juga terlihat.

Faida berharap DPRD kabupaten betul-betul diisi oleh para legislator yang memperjuangkan rakyat. “Bukan kayak sekarang, 50 orang geridduh meloloh (ribut terus). Berantem terus sama bupati. Saya memang tidak mau kalau suruh nyogok-nyogok terus baru ditandatangani APBD. Tidak mau saya. Makanya geridduh meloloh,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

“Maka saya pesan kepada bapak ibu, sekarang jangan pilih caleg yang bagi-bagi uang. Kalau dia bagi-bagi uang, terus habis banyak, waktu jadi pasti dia korupsi. Waktu jadi, pasti mengganggu pembangunan,” kata Faida.

“Kalau yang bagi-bagi uang kita pilih, kita memilih calon koruptor. Hati-hati. Bagaimana kalau ada yang bagi-bagi uang? Deremmah? Kalak pesennah, jek peleh orenga (Bagaimana? Ambil uangnya jangan pilih orangnya),” kata Faida.

Menurut Kustiono, jika memang 50 anggota DPRD Jember meminta sogokan, maka sebaiknya dilaporkan ke aparat kepolisian dan tak hanya diwacanakan di masyarakat. “Kalau perlu dijebak,” katanya.

Kustiono khawatir, pernyataan dalam video tersebut bisa memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap parlemen. Padahal, 17 April 2019, pemilu legislatif digelar, dan salah satunya untuk memilih anggota-anggota DPRD Jember. “Ini begitu mendasar dan berpotensi merusak tatanan demokrasi. Menurut kalkulasi matematis saya, paling tidak akan meningkatkan angka golput. Ketika ngomong golput, pelaksanaan pemilu tidak sukses, pasti ada efeknya kepada (capres) incumbent. Jadi multiplier effect-nya panjang. Ketika kepercayaan publik terhadap fungsi parlemen melemah, maka bisa dipastikan golput tinggi,” katanya.

Aksi demonstrasi itu berjalan kurang lebih satu jam, dan tak ada satu pun anggota DPRD Jember yang menemui. “Ke mana mereka? Mereka digaji dengan uang rakyat,” kata Sudarsono, salah satu peserta demo. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar