Peristiwa

Musim Kemarau, Pemkab Bojonegoro Kumpulkan Petugas Hippa

Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengumpulkan sejumlah petugas Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA) jaringan irigasi Pacal kiri di Balai Desa Kedaton Kecamatan Kapas, kemarin.

Hal itu untuk menyikapi adanya kemarau panjang yang terjadi saat ini. Selama musim kemarau kebutuhan petani akan air semakin meningkat sementara debit air semakin berkurang. Sehingga perlu adanya pemerataan penggunaan air yang bersumber dari aliran sungai atau tadah hujan disekitar lahan pertanian.

Kepala Desa Kedaton Hariyanto mengatakan, pertemuan tersebut mencari solusi bersama terhadap dampak dari kemarau panjang bagi petani. “Diharapkan dengan adanya kegiatan ini pertanian di Bojonegoro bisa jalan, dan petani tidak mengalami kerugian akibat kekeringan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Edy Susanto menyampaikan, Pemerintah kabupaten Bojonegoro kini tengah berupaya untuk mengatasi masalah irigasi pertanian. Salah satunya adalah pembuatan waduk Gongseng yang pembangunannya saat ini sudah mencapai 90%.

Waduk gongseng ini mampu menampung air sebanyak 22 juta meter kubik, “kita juga punya waduk pacal yang mampu menampung air sebesar 22 juta meter kubik jika ditotal kedua waduk tersebut dapat menampung 44 jt meter kubik, yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air” terangnya.

Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, dalam dunia pertanian air merupakan faktor yang penting selain kesuburan tanah dan teknologi pertanian. Ketersediaan air menjadi terbatas oleh pergantian musim, sehingga perlu upaya konservasi dan pengaturan penggunaan air secara baik oleh semua pihak.

“Selain pembenahan infrastruktur, Pemerintah juga melakukan pembinaan kepada anggota HIPPA/GHIPPA sebagai kelembagaan pengelolaan irigasi yang dapat memberikan manfaat langsung dari pengelolaan air,” ungkapnya.

Dengan adanya pembinaan ini, Wabup berharap kepada masyarakat petani dapat menjadi organisasi yang mandiri dan mampu baik secara teknis dalam berorganisasi dalam pengelolaan air irigasi diwilayah kerjanya masing-masing. [lus/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar