Peristiwa

52 Warga Eksodus ke Pesantren di Malang

MUI Ponorogo Sayangkan Dampak Sosial yang Terjadi

Sekretaris (MUI) Ponorogo Ahmad Munir

Ponorogo (beritajatim.com) – Pihak kepolisian sudah menyimpulkan 52 warga Desa Watu Bonang yang eksodus ke Malang itu bukan karena isu kiamat. Namun, mereka mondok program tiga bulanan di pesantren Desa Pulosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten, Malang.

Mereka adalah jemaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah (MUSA AS). Adalah Katimun, tokoh agama Desa Watu Bonang, yang mengajak warga untuk melaksanakan eksodus tersebut. Namun demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo tetap akan melakukan penelusuran lanjutan.

“Untuk sekarang ini kami fokus mendampingi warga Desa Watu Bonang yang belum berangkat. Mereka kita minta mengurungkan niatnya berangkat ke pesantren di Kasembon, Malang,” kata Sekretaris (MUI) Ponorogo Ahmad Munir, Sabtu (16/3/2019).

Selain itu pihaknya bersama tim yang dibentuk Bupati Ipong Muchlissoni melakukan pembinaan terhadap jemaah agar tidak ikut aliran yang dianggap keliru. Begitu dengan warga desa Watu Bonang lainnya.
“Kami juga kordinasi dengan Pemdes Watu Bonang untuk kondisi masyarakatnya kedepan,” katanya.

Kalau suasana sudah mulai tenang, bukan tidak mungkin pihaknya bakal melakukan kajian mendalam. Berfokus terhadap dampak sosial yang ditimbulkan dari ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah ini.
“Tidak hanya sekedar soal penyelewengan ajaran, tapi dampak sosial yang ditimbulkan ini yang paling penting,” katanya.

Kepindahan 52 warga Desa Watu Bonang secara mendakak ke Malang, menurut MUI, memiliki implikasi sosial. Semisal, sejumlah anak yang dibawa mondok tanpa pamit pihak sekolah, kemudian sejumlah aset milik warga yang dijual dengan harga murah untuk bekal mondok. “Itu merupakan dampak sosial nyata ditimbulkan,” katanya.

Munir menegaskan, hasil penggalian data di lapangan akan dibawa pada pertemuan MUI tingkat provinsi dan pusat. Terutama kepada jamaah yang belum berangkat menyusul ke Malang. “Dari kajian itulah dapat menguak bagaimana sebenarnya peristiwa ini dapat terjadi,” pungkasnya. [end/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar