Peristiwa

Masuki Musim Kemarau, 62 Desa di Gresik Rawan Kekeringan

Foto ilustrasi

Gresik (beritajatim.com) – Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Gresik mengalami kekeringan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, ada 62 desa berpotensi terdampak kekeringan tahun 2019 ini.

Kepala BPBD Kabupaten Gresik Tarso Sagito menuturkan, terkait memasuki musim kemarau pihaknya jauh-jauh hari sudah melakukan pemetaan wilayah terdampak kekeringan. Terutama di wilayah Gresik Selatan.

“Kami mencatat ada 62 desa yang terbagi di 8 kecamatan. Diantaranya, Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Menganti, Kedamean, Cerme, Duduksampeyan, Bungah, dan Kecamatan Sidayu,” tuturnya, Selasa (02/07/2019).

Tarso menambahkan, dirinya memprediksi puncak kemarau yang berakibat kekeringan bakal berlangsung sekitar bulan Juli hingga September 2019. Karena itu, phaknya kuatir apabila kemarau berlangsung lama. Pasalnya, BPBD Gresik hanya menyediakan 1.000 tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan selama kemarau 2019.

“Jumlah tersebut kami harap bisa mencukupi kebutuhan air bersih untuk warga terdampak,” tambahnya.

Tarso juga mengimbau, terhadap warga desa yang terdampak kekeringan menyediakan penampungan air bisa dibersihkan sedini mungkin. Seperti halnya embung maupun waduk. Sebab, saat kemarau tiba warga memanfaatkan embung maupun waduk sebagai sumber air utama.

“Berdasarkan laporan di lapangan tahun lalu. Sebagian embung maupun waduk juga mengalami kekeringan,” ungkapnya

Dari evaluasi BPBD Gresik, tidak hanya krisis air yang bakal terjadi. Pihaknya memprediksi lahan pertanian juga bakal terdampak. Yakni, petani bakal mengalami gagal panen. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar