Peristiwa

Lestarikan Situs Sekaran, Jasamarga Geser Tol Mapan 8 Meter

Malang (beritajatim.com) – Pembangunan Tol Malang Pandaan (Mapan) terjadi perubahan. Nantinya, akan bergeser sepanjang 8 meter menuju arah sungai Amprong.

Pergeseran tersebut dilakukan atas dasar pertimbangan dari temuan situs purbakala di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, yang bertepatan pada kilometer 37 Tol Mapan.

Demikian dijelaskan Direktur Utama (Dirut) PT. Jasamarga Pandaan Malang (JPM), Agus Purnomo usai melakukan rapat koordinasi bersama pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan beberapa pihak lainnya di Kantor JPM pada Senin (25/3/2019).

Menurut Agus, berdasarkan rapat koordinasi yang baru digelar, pergeseran sepanjang 8 meter yang direncanakan masih dapat dimungkinkan dari struktur pondasi yang ada.

“Ya kami akan segera membuat perencanaan, terkait pergeseran sepanjang 8 meter tersebut akan dibuat seperti apa, menggunakan konstruksi apa, itu akan kami bahas dan rencanakan segera,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu surat resmi dari pihak-pihak terkait untuk kembali melanjutkan proses pembangunan jalan tol tersebut juga termasuk pergeseran sepanjang 8 meter yang telah direncanakan.

“Saat ini kami juga masih menunggu keputusan resminya dari pihak terkait seperti Dirjen Kabudayaan, dan juga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) hingga ke kami terkait rencana pergeseran tersebut,” papar Agus.

Sementara itu, di lokasi yang sama, Kepala BPCB Jawa Timur, Andi Muhammad Said mengatakan, pihaknya telah melokalisir situs tersebut seluas 24×24 meter dan juga telah menetapkan batas delineasi sepanjang 12 meter di sekeliling temuan tersebut.

“Batas itu yang kita tentukan sepanjang 12 meter, dan juga batas-batas mana saja yang boleh atau tidak boleh disentuh. Dan mereka setuju tentang batas itu, hanya saja kami tinggal membuat surat resmi dengan dilampirkan peta yang sama,” beber Andi.

Selama proses penggalian, lanjut Andi, pihaknya akan terus melakukan pengawasan. Hal itu dilakukan, karena jika ada temuan lagi, agar bisa dilakukan kajian lebih lanjut. Sementara ini, terkait temuan itu sendiri, pihaknya masih bisa memperkirakan bahwa situs tersebut merupakan tempat pemujaan pada zaman Kerajaan Singosari yang berorientasi pada Gunung Semeru.

Dalam proses ekskavasi selanjutnya, Andi menambahkan, nantinya untuk pengamanan akan dilakukan oleh Dinas terkait, namun untuk penelitiannya akan diserahkan ke Balai Arkeologi.

“Kewenangannya tetap berada di Pemerintah Daerah (Pemda). Kewenangan mengelola cagar budaya adalah Pemda, dalam hal ini ya OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang menangani Pariwisata dan Kebudyaaan, kalau kami sifatnya mendampingi, atau fasilitator,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, hal tersebut juga berkaitan dengan temuan beberapa barang seperti koin yang sempat ditemukan oleh warga. Menurutnya, jika pihak desa akan mengganti temuan tersebut, hal itu sangat diperbolehkan, karena desa yang memilili wilayah tersebut.

“Kalau memang warga ada yang menemukan, baiknya melapor minimal ke pihak Desa. Kabarnya juga kan sekarang beberapa penemuan oleh warga juga telah dikumpulkan ke desa, dan akan diganti oleh pihak desa, yang nantinya oleh pihak desa akan dijadikan museum purbakala. Tapi jika desa meminta kami yang mengganti, kami siap melakukannya. Tapi kami akan memprioritaskan desa, karena desa yang memiliki wilayahnya,” pungkasnya.

Tak hanya itu, Andi juga mengapresiasi atas sinergitas yang dibangun oleh pihak-pihak yang terlibat terkait temuan tersebut. Ia menyebut, dalam rapat koordinasi tersebut seluruh pihak bersepakat untuk melestarikan temuan situs di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang tersebut.

“Maka dari itu timbul kesepakatan pergeseran badan jalan. Karena temuannya mengenai badan jalan tol itu,” pungkasnya. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar