Peristiwa

Kisah Sarmi, Berangkat ke Tanah Suci di Tengah Kekurangan

Surabaya (beritajatim.com) – Jalan menuju Tanah Suci tak akan tertutup jika ada niat dan tekat yang kuat.
Hal tersebut kembali terbukti pada Nenek Sarmi yang hidup sebatangkara di tengah kekurangannya, namun nenek berusia 78 tahun ini tetap bisa naik haji.

Hidup sebatangkara dengan penghasilan sebagai penjual di pasar, Sarmi yang berpenghasilan tak sampai Rp 50 ribu per hari ini masih menyisakan uang buat nabung haji. Berawal dari bertanam ubi dan beternak ayam, nenek ini mencoba membuka sedikit demi sedikit jalannya menuju Tanah Suci Makkah.

Bahkan yang membuat rekan haji sekelompoknya tercengang, ia rela menjual satu-satunya tanah warisan untuk melunasi biaya berangkat haji. Padahal tanah tersebut menjadi lumbung penghasilannya. “Saya pasrahkan ke Allah. Saya gak apa jika harus meninggalkan harta titipan-Nya,” ucapnya dengan mata berkaca di hal B2 Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Kamis (18/7/2019).

Sarmi hidup ditemani tetangga yang ia angkat sebagai saudara. Sarmi juga menyebutkan bahwa banyak cobaan usai mendaftar haji. Bagaimana tidak, usai pendaftaran yang ia lakukan 10 tahun lalu, hidupnya kemudian sebatangkara. “Ada saudara yang dulu nemani, tapi usai daftar haji dia meninggal dunia,” ujar Sarmi sembari melempar senyum.

Awalnya, nenek yang tak memiliki garis keturunan ini sempat menolak untuk diwawancari wartawan, namun setelah petugas PPIH Embarkasi Surabaya memberikan pemahaman, dia pun berkenan. Sarmi lantas mengisahkan pengalaman bagaimana menumbuhkan hati untuk memenuhi rukun Islam kelima. [man/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar