Peristiwa

Ramadan di PPDU Jombang

Kisah Puluhan Lansia Berburu Ilmu Agama

Jombang (beritajatim.com) – Suwarti (62) bersyukur masih bisa bertemu dengan Ramadan 1440 H. Lebih bersyukur lagi, perempuan asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini masih bisa mengikuti pesantren lansia (lanjut usia) di PPDU (Pondok Pesantren Darul Ulum) Rejoso, Kecamatan Peterongan, Jombang.

Ramadan tahun ini adalah kali keempat Suwarti tinggal di pesantren selama satu bulan penuh. Dia meninggalkan tiga anaknya di Kabumen. Di PPDU itulah Suwarti mempebanyak amal ibadah, mengikuti pengajian, serta nyantri bersama puluhan lansia lainnya dari berbagai daerah.

“Alhamdulillah, ini merupakan Ramadan yang ke-empat saya tinggal di pesantren Darul Ulum. Di sini lebih tenang untuk beribadah. Setiap hari mengikuti pengajian yang disampaikan oleh Pak Kiai,” ujar Suwarti yang ditemui di masjid induk PPDU, Jumat (10/5/2019).

Suwarti berkisah, awal mula mengetahui ada santri lansia selama Ramadan dari tetangganya. Saat itu Suwarti ingin memperdalam ilmu agama saat Ramadan. Gayung pun bersambut, sang tetangga memberikan referensi bahwa di PPDU Jombang, dahaga ibadah Suwarti bisa terobati.

“Akhirnya saya berangkat ke sini (PPDU). Alhamdulillah, sesuai dengan yang saya harapkan. Di sini saya bisa beribadah dengan tenang. Bisa memperbanyak amalan selama Ramadan. Sebelum berangkat, sudah pamit ke anak-anak saya, dan diizinkan,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan Hj Alfiyah (60), asal Bengkulu. Dengan langkah memburu, Alfiyah keluar dari masjid PPDU, Kamis (9/5/2019) sore. Dia baru saja mengikuti pengajian kitab kuning yang disampaikan oleh salah satu pengasuh PPDU, KH Cholil Dahlan.

Alfiyah nampak sibuk di sekitar masjid induk pesantren itu. Dia mennghampiri sejumlah pedagang makanan yang ada di area pesantren. “Ini lagi belanja untuk bekal berbuka puasa. Tadi barusan selesai mengikuti pengajian dari Pak Kiai (KH Cholil Dahkan),” ujar Alfiyah.

Usai berbelanja, Alfiyah kemudian kembali ke ruang wanita yang ada di masjid induk tersebut. Nah, di ruangan itulah nampak puluhan lansia yang sedang mempersiapkan buka puasa. Almari dari kayu berderet di ruangan itu. Kasur lantai juga berbaris di atas lantai.

Di ruangan itulah para lansia melakukan aktifitas. Mulai tidur hingga melakukan ibadah makan sahur dan berbuka puasa. Jika siang hari, di ruangan itu pula mereka menderas kita suci Alquran. “Setelah subuh mengaji, nanti siang juga mengaji, kemudian setelah salat ashar mengaji lagi hingga pukul lima sore. Malamnya salat tarawih dan melaksanakan amalan sumah lainnya,” ujar Alafiyah.

Tradisi Turun Temurun

Pengasuh PPDU KH Cholil Dahlan mengatakan, tradisi lansia nyantri di PPDU selama bulan puasa sudah berlangsung lama. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. Mereka bukan hanya datang dari Jombang dan sekitarnya. Namun ada yang dari luar kota, bahkan luar pulau.

Saat ini, menurut Kiai Cholil, lansia yang mengikuti kegiatan di pesantren selama Ramadan sekitar 60 orang. Jumlah tersebut berkurang jauh jika dibanding dengan tahun sebelumya, yakni 100 orang lebih. Bahkan pernah mencapai 200 orang lansia.

Para santri lansia ini tidak diminta biaya sepeserpun. Namun, mereka justru mendapatkan takjil Ramadan. Sedangkan untuk kebutuhan buka puasa dan makan sahur, mereka biasanya membeli di penjaja makanan yang selalu siap di sekitar PPDU.

“Jumlah mereka akan terus bertambah seiring Ramadan. Karena banyaknya santri lansia, mereka kami ditempatkan di dua lokasi. Yakni di masjid utama, dan di asrama putri PPDU. Seluruh lansia itu selalu mengikuti kegiatan pengajian yang digelar di masjid induk,” ujar Kiai Cholil yang juga Ketua MUI Jombang ini.

Amalan apa yang mereka lakukan selama di pesantren? Kiai Cholil menjelaskan, selama berada di pesantren, ratusan lansia itu mendapatkan berbagai macam materi. Mulai dari ibadah murni seperti salat, zakat, dan puasa, hingga menjalankan ibadah tambahan seperti zikir, kajian kitab, serta materi tentang akhlak.

“Pada pagi hari, mereka mengaji selama dua jam setelah salat duha. Kemudian mengaji lagi secara berjamaah setelah ashar, selama satu jam. Setelah magrib membaca Alquran, kemudian malamnya salat tarawih berjemaah. Begitu seterusnya,” pungkasnya. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar