Peristiwa

Ketika Mahasiswa Papua Memimpin Lagu Indonesia Raya

Natalia (kaos hitam) menjadi dirijen saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. [Foto: Yusuf/beritajatim]

Jombang (beritajatim.com) – Kaos hitam bertulis Jayapura Papua membalut tubuh Natalia Musake (21). Langkahnya mantap menuju depan hadirin. Semua pandang mata yang ada di ruangan tersebut tertumbuk kepadanya.

Sejurus kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Natalia memandu dengan birama. Mulutnya juga komat-kamit menyanyikan lagi ciptaan WR Supratman itu. Yang dipimpin Natalia dalam menyanyikan lagu kebangsaan itu bukan orang sembarangan.

Ada Bupati Jombang Mundjidah Wahab, ada Wakapolres Kompol Budi Setiyono, ada perwakilan dari Kejari (Kejaksaan Negeri), perwakilan Kodim/0814, serta perwakilan dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Semuanya berdiri. Semuanya larut dalam lagu Indonesia Raya. Tak terkecuali sekitar 20 mahasiswa Papua yang hadir di forum tersebut.

Lagu Indonesia yang dinyanyikan itu sebagai pembuka FGD (Forum Grup Discusion) yang digelar Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forpimda) Jombang di salah satu rumah makan, Selasa (20/8/2019). Natalia hadir bersama kawan-kawannya yang semuanya berasal dari Papua. Mereka sudah tiga tahun tinggal di Jombang guna kuliah di STIKES Husada, Kecamatan Peterongan.

“Saya sejak SMA sudah biasa menjadi dirijen saat menyanyikan Indonesia Raya. Jadi sudah terbiasa. Kalau tinggal di Jombang, saya sudah tiga tahun,” kata Natalia usai memimpin menyanyikan lagu tersebut, Selasa (20/8/2019).

Natalia lalu berkisah tentang perjalanannya hingga sampai di Kota Santri. Usai lepas SMA, dirinya masuk di STIKES Husada di Sorong, Papua. Lembaga tersebut berpusat di Jombang. Dua semester menjalani kuliah di kampung halaman, dia kemudian bertolak ke kampus pusat yang ada di Jombang.

Mahasiswa Papua bergandeng tangan dengan segenap Forpimda Jombang sebagai simbol persatuan

Natalia berangkat bersama 12 orang temannya yang semuanya mahasiswa STIKES. Perjalanan ditempuh menggunakan kapal laut. Tak pelak, selama empat hari empat malam para mahasiswa asal Sorong itu terombang-ambing di atas kapal.

Mereka turun di Tanjung Perak Surabaya, lalu meneruskan dua jam perjalanan hingga sampai di Jombang. Natalia mengakui, awal-awal tinggal di Jombang, selalu ingin pulang ke Papua. Dia masih terkenang dengan tempat kelahirannya. Namun seiring laju waktu, mahasiswa asal Papua itu mulai kerasan. Bahkan sudah cocok dengan makanan di Jombang. Cocok juga dengan masyarakat sekitar.

Disinggung terjadinya ketegangan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Natalia mengaku mengetahui lewat berita. Juga dengan adanya kerusuhan di Manokwari Papua kemarin. “Saya sudah kontak dengan keluarga di sana (Papua). Kami kabarkan bahwa kondisi di Jombang baik-baik saja,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Novita Wagarefe, mahasiswa Papua lainnya. Nofita termasuk salah satu 13 mahasiswa yang berangkat dari Sorong ke Jombang naik kapal laut. Dia kuliah di STIKES mengambil jurusan kebidanan. Selama tinggal di Kota Santri, Novita tak pernah ada masalah. Semuanya berjalan baik-baik saja.

Setiap Minggu pagi di dan teman-temannya bisa beribadah dengan tenang di gereja. Bahkan Nofita juga aktif di perkumpulan orang Papua yang tergabung dalam Pamanusa (Papua, Ambon dan Nusa Tenggara). Anggota perkumpulan tersebut 50 orang lebih.

Kegiatan yang dilakukan sederhana. Usai kebaktian di gereja mereka berkumpul. Kegiatannya bermacam-macam, mulai latihan paduan suara hingga latihan menari. “Salah satu kegiatannya latihan menari sajojo. Kita berkumpul setiap Minggu, setelah dari gereja,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Novita mengakui, selama tiga tahun tinggal di Jombang, kerinduan terhadap kampung halaman kadang muncul. Maklum saja, Novita asli berdarah Papua, lahir di Papua, kedua orangtuanya juga orang Papua. Namun semua itu bisa terobati dengan tekadnya belajar dan cita-citanya menjadi seorang bidan.

Bagaimana dengan masakan di Jombang? Novita mengatakan, awalnya lidahnya tidak terbiasa. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya bisa beradaptasi. “Kalau kangen masakan khas Papua semisal Papeda, maka saya mask sendiri. Tidak menggunakan sagu, namun kita siasati menggunakan tepung kanji,” katanya.

Waka Polres Jombang Kompol Budi Setiyono mengatakan, pihaknya sengaja menggelar acara tersebut dengan mengundang mahasiswa Papua. Hal itu sebagai tindak lanjut permasalahan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Bahkan kasus di dua kota tersebut berbuntut kerusuhan di Manokwari.

Waka Polres Jombang melakukan swafoto dengan mahasiswa asal Papua

Oleh sebab itu, Waka Polres mengimbau kepada mahasiswa Papua yang ada di Kota Santri agar tidak terprovokasi dengan kejadian Surabaya dan Malang. Budi menyebut, ketegangan di Malang dan Surabaya dipicu oleh oknum, bukan kelembagaan.

“Adik-adik mahasiswa, kita semua adalah NKRI. Kita semua saudara. Jangan mau diadu domba. Tidak boleh ada diskriminasi suku, agama dan ras. Kami siap menjamin keamanan mahasiswa Papua yang kuliah di Jombang,” ujar Budi di depan forum.

Hal senada disampaikan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab. Menurutnya, selama ini situasi Jombang aman dan kondusif. Apalagi di Jombang ada tokoh pluralis KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Untuk peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini, mahasiswa Papua yang ada di Jombang juga kita libatkan dalam pawai budaya. Tidak ada perbedaan, kita semua sama,” ujar Bupati Mundjidah.
[suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar