Peristiwa

Kesaksian Guru BK yang Terseret Ganasnya Ombak Laut Selatan

Guru BK SMA Negeri 3 Jombang, Yani Susanti

Jombang (beritajatim.com) – Niat rombongan guru BK (Bimbingan Konseling) asal Kabupaten Jombang untuk menikmati indahnya Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, Jember, berujung duka. Empat guru tergulung ombak saat berenang di pantai itu, Minggu (10/2/2019).

Dua orang ditemukan dalam kondisi meninggal. Satu orang masih hilang dan satu lagi ditemukan selamat. Adalah Yani Susanti (35), guru BK asal SMA Negeri 3 Jombang yang selamat dalam tragedi tersebut. Namun Yani masih syok. Peristiwa yang merenggut nyawa temannya itu belum hilang dari ingatannya.

Ditemui di rumahnya Perumahan Denanyar Asri, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Senin (11/2/2019), Yani tak berhenti berucap syukur. Dia bisa selamat meski sempat tergulung ganasnya ombak laut selatan. “Sudah mendingan. Tapi masih terbayang-bayang peristiwa kemarin,” kata Yani memulai ceritanya.

Yani masih ingat saat dirinya diliputi kepanikan. Antara hidup dan mati selama lebih 15 menit terombang-ambing oleh gelombang laut. Dia berada di jarak sekitar 25 meter dari bibir pantai. Tangannya melambai-lambai minta tolong. Badannya timbul tenggelam.

Namun pertolongan yang diharapkan tak kunjung datang. Ibu dua anak ini saling berpegangan tangan dengan dua orang temannya, yakni Yudha Mahardika (34) dan Zakiyah (30). Tujuannya, agar mereka tidak hilang bersama-sama ditelan gelombang laut selatan.

Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Pegangan tersebut akhirnya terlepas karena kondisi fisik semakin melemah. Dalam kondisi kritis itulah Yani melihat seorang nelayan datang. Warga setempat tersebut menggunakan pelampung dari jeriken. Dia menarik tubuh Yani ke pinggir.

“Yang saya ingat, ada nelayan yang menolong. Tubuh saya diseret ke pinggir. Dia membawa jeriken yang difungsikan sebagai pelampung. Namun dua rekan saya (Yudha dan Zakiyah) sudah tak bernyawa ketika dibawa ke pinggir. Sedanhkan Dik Hasan (M Hasanudin Masykur) sampai sekarang belum ditemukan,” katanya dengan suara berat.

Berangkat Sabtu Malam

Yani Susanti menunjukkan video detik-detik dirinya terseret ombak

Keberangkatan Yani ke pantai Payangan Jember tidak sendiri. Ada sekitar 21 guru yang mengikuti acara tersebut. Para guru itu tergabung dalam MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan Konseling). Wisata ke Jember itu dilakukan setelah mereka sukses menggelar pameran pendidikan di Auditorium Undar pada 21-22 Januari 2019.

Sesuai dengan rencana, Sabtu (9/2/2018) sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan bertolak ke Jember dengan mengedarai bus. Yani yang awalnya tidak ikut, akhirnya berangkat juga bersama rombongan. “Saya rencananya tidak ikut. Namun Sabtu sore dijemput Bu Zakiyah di rumah. Akhirnya saya ikut,” kata Yani.

Perjalanan dari Jombang menuju Jember berlangsung aman. Tak ada keganjilan. Minggu dini hari, rombongan MGBK asal Jombang ini tiba di Pantai Papuma Jember. Mereka menikmati keindahan pantai tersebut. Hanya saja, para guru tidak sampai berenang di laut.

Selepas santap siang, rombongan MGBK bergerak ke Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu. Nah, di pantai inilah mereka meluapkan kegembiraan. Bahkan empat guru bermain air dan berenang di tepian pantai. Selebihnya, ada yang sekedar jalan-jalan di tepi pantai. Ada juga yang sekadar nongkrong di warung sembari menyeruput kopi.

Yani adalah guru yang ikut berenang. Awalnya dia hanya bermain air di tepi pantai bersama tiga guru lainnya. Namun saking asyiknya, mereka tidak menyadari semakin bergerak ke tengah. Apalagi, saat itu menurut Yani, ombak laut tidak terlalu besar.

“Kami sadar ketika kaki ini tidak bisa menjejak tanah. Kami sudah terseret ke tengah. Nah, dari situlah kami bergandengan tangan. Saya berusaha mengangkat tubuh Bu Zakiyah, namun tidak berhasil. Giliran saya yang diangkat oleh Pak Yudha. Tapi lagi-lagi gagal. Kami semua panik,” ujar Yani berkisah.

Lebih dari 15 menit mereka dalam kondisi tak menentu. Semua diserbu kepanikan. Hingga akhirnya upaya saling berpegangan yang dilakukan para guru ini melemah dan lepas. Ombak yang datang kembali menghajar mereka. Yani sempat melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan.

Sejurus kemudian seorang nelayan datang memberikan bantuan. Yani berhasil selama, sedangkan guru BK asal SMA Negeri 1 Jombang, Zakiyah dan guru BK SMA Negeri Plandaan Jombang Yudha, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Sedangkan M Hasanudin Maskur (23) guru BK SMK Negeri 3 Jombang masih dalam pencarian sampai saat ini.

Setelah berada di tepi pantai, Yani kemudian dibawa ke Puskesmas Ambulu guna mendapatkan perawatan medis. Guru BK tersebut dinaikkan ke atas motor. Selama perjalanan, Yani kerap muntah-muntah. “Karena kemasukan air laut cukup banyak. Sampai nafasnya saya sesak. Makanya saat dibawa ke Puskesmas saya sering muntah,” ujar wanita kelahiran 21 Mei 1983 ini.

Walhasil, kondisi Yani semakin membaik usai menjalani perawatan. Hingga pada Minggu malam dia diperkenankan kembali ke Jombang. “Saya ke Jombang bareng ambulan. Sampai rumah sekitar pukul 23.00 WIB,” ujar alumni Fakultas Psikologi Undar Jombang ini. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar