Peristiwa

Kabupaten Mojokerto Miliki 6 Ancaman Bencana Alam

Plt Bupati Mojokerto, Pungkasiadi. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto diidentifikasikan memiliki enam ancaman bencana alam. Yakni bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta erupsi gunung berapi.

Berdasarkan data Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI) yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2013, Kabupaten Mojokerto memiliki indeks resiko bencana sebesar 164 atau masuk dalam kategori tinggi.

Kepala Pelaksanan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, penanggulangan bencana saat ini sistemnya tidak cukup dengan reaktif. “Paradigma itu kita coba ubah menjadi proaktif,” ungkapnya, Rabu (18/12/2019).

Artinya, lanjut Zaini, kebencanaan saat ini menjadi urusan bersama dan melibatkan semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Zaini menjabarkan, jika hampir 50 persen dari yang dapat menghindari bencana ialah diri sendiri sehingga BPBD berupaya membekali masyarakat bagaimana cara menanggulangi bencana.

“Kita juga telah melakukan pembekalan di sekolah-sekolah maupun rumah sakit, guna meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Kita juga gencar mensosialisasikan penanggulangan bencana musim hujan kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Plt Bupati Mojokerto, Pungkasiadi berpesan untuk tetap selalu memperhatikan korban bencana. “Pada saat tanggap darurat, kita juga telah bahu-membahu menolong dan melayani saudara-saudara kita yang menjadi korban,” ujarnya.

Ia mengaku bangga dengan sikap ringan tangan dan kepedulian para relawan penanggulangan bencana, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD serta semua pelaku penanggulangan bencana di Kabupaten Mojokerto selama ini.

“Kita coba siapkan semua (upaya penanggulangan), mulai dari Desa Tangguh, juga Keluarga Tangguh. Pemkab mojokerto telah memploting anggaran kebencanaan dengan strategis. Saya sudah berpikir panjang. Dari mulai bencana, hingga pasca bencana,” tuturnya.

Selain penganggaran terkait dampak yang ditimbulkan akibat bencana, Pemkab Mojokerto juga ada dua bantuan sosial tak terduga. Yakni bansos direncanakan dan bansos tak terduga yang ada di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto.

Kabupaten Mojokerto saat ini bekerjasama dengan LPH Pasuruan, mencoba memulai sebuah inovasi yang baru pertama kali dilakukan di Jawa Timur yaitu mitigasi penguatan lereng guna mencegah bencana tanah longsor.

Aksi yang dilakukan yakni melakukan penanaman rumput vetiver sebanyak 7.000 vetiver di lahan seluas 30 hektar, khusunya di wilayah Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Tanaman vetiver atau akar rumput wangi adalah sejenis rumput yang memiliki akar sepanjang 2-5 m dibawah tanah.

Tanaman ini mempunyai banyak manfaat antara lain dapat memperbaiki kualitas tanah dan air sehingga dapat mencegah tanah longsor, banjir dan erosi. Vetiver dapat di tanam di tebing-tinggi yang berada di samping pemukiman warga desa yang dimaksudkan untuk mengurangi tingkat rawan longsor.

Kegiatan rakor ini dilanjutkan dengan penyerahan piagam Lomba Desa Tangguh Bencana Tingkat provinsi Jawa Timur kategori Pertama yang diraih Desa Kalikatir. Dilanjutkan penyerahan mobil operasional rescue dan truk tangki air bersih BPBD Kabupaten Mojokerto tahun anggaran 2019. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar