Peristiwa

Ini Penjelasan Kontraktor Soal Robohnya Atap Kantor Kecamatan Jenggawah

Jember (beritajatim.com) – Andun Sulistyo Darmawan, Direktur Utama PT. Andaya Breka Konstruksi, akhirnya mengklarifikasi ambruknya atap kantor Kecamatan Jenggawah saat tengah dibangun tempo hari.

PT Andaya Breka Konstruksi adalah pemenang tender proyek pembangunan rehabilitasi gedung dan interior kantor Kecamatan Jenggawah yang dibiayai dengan APBD 2019 sebesar Rp 2,049 miliar itu. Proyek ini mulai dikerjakan pada 24 Juli 2019 dan sesuai jadwal seharusnya selesai pada 21 November 2019. Namun hingga Selasa (3/12/2019), proyek itu belum kelar.

Andun mengatakan, robohnya atap kantor Kecamatan Jenggawah yang menyebabkan satu orang pekerja terluka adalah musibah. “Ini di luar kehendak kami. Kami mohon maaf sebagai kontraktor pelaksana,” katanya, Kamis (5/12/2019).

“Kami sudah melaksanakan sesuai spek (spesifikasi) yang dibuat konsultan perencana. Itu adalah tugas kami. Karena dalam sebuah tim, sebuah project ada konsultan perencana, konsultan pengawas, dan ada kontraktor pelaksana yang punya tugas masing-masing,” kata Andun.

“Kami sebagai pelaksana hanya melaksanakan tugas sesuai dengan gambar dan RAB (Rencana Anggaran Biaya),” tegas Andun. Proyek itu pun dipantau oleh Pemerintah Kabupaten Jember.

Menurut Andun, ketika desain bangunan sudah mengikuti gambar perencanaan yang sudah dihitung konsultan, maka semua seharusnya sudah terkonfirmasi. “Kami tidak bisa membuktikan kebenaran desain yang dibuat konsultan perencana,” katanya.

Andun membenarkan beban genteng terhadap kerangka galvalum memang berpengaruh. Ada sekitar 1.500 buah genteng dengan berat masing-masing 1,5 kilogram. “Ini belum ditambahi berat wuwung dan luluh (semen) yang harus direkatkan,” katanya. Genteng dan material lainnya sudah sesuai spesifikasi.

Andun lantas menceritakan kendala yang dihadapinya. “Dari sisi waktu, proses tender ini sudah dimulai pada bulan Juni-Juli. Artinya kami selalu berhadapan dengan waktu yang menjelang Desember. Padahal pekerjaan struktur dari nol, rehabilitasi berat dari mulai membongkar (bangunan lama) yang butuh waktu satu bulan. Kalau bisa saja maju, durasi waktu yang digunakan lebih banyak. Tapi kalau start Juli, sisa waktu tinggal lima bulan,” katanya.

Selain itu, lanjut Andun, ada perubahan desain yang tidak melibatkan konsultan perencana. “Itu sangat mengganggu kecepatan dan efektivitas kami dalam melaksanakan,” katanya.

Selama masa pengerjaan proyek, ada banyak perubahan. “Dari awal denahnya tidak sesuai, dengan apa yang di gambar sama yang di lapangan. Kami melakukan pengukuran lagi,” kata Andun.

Sebelum ambruk, Andun sebenarnya optimistis menyelesaikan proyek itu. Bangunan itu sudah selesai 70 persen dan dalam waktu dekat akan memasukkan furniture atau perangkat kantor ke dalam bangunan itu. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar