Peristiwa

Gus Hans: Belajarlah Toleransi ke Tanah Papua

Zahrul Azhar Asad atau Gus Hans. [Foto: Dok Pribadi]

Jombang (beritajatim.com) – Tokoh muda Jatim KH Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans memiliki kenangan tersendiri terhadap Papua. Bagi Gus Hans, jika selama ini ada sebuah maqolah yang menyuruh ‘tuntutlah ilmu hingga ke negeri China’ maka dirinya akan belajar tentang kedamaian dan toleransi ke tanah Papua.

Gus Hans memiliki kesan khusus dan mendalam di tanah Papua. Suatu ketika dirinya mendapat tugas dari stasiun televisi untuk meliput tentang masjid-masjid tua di seluruh wilayah nusantara, dari Aceh hingga Papua. Gus Hans kemudian terbang menuju Propinsi Papua Barat.

“Saya datang dengan bekal ekspektasi dan opini dari info-info yang saya olah sendiri tentang Papua. Saya berpikir akan susah mencari masjid dan bertemu umat Islam di tanah Papua dan bla bla bla serta penuh dengan keterbelakangan. Namun setiba di Manokwari saya tidak susah mencari sebuah masjid besar. Bahkan masjid tersebut konon dibangun oleh seorang perwira menengah TNI AL yang beragama Kristen,” kata tokoh muda yang hendak meramaikan bursa Pilwali Surabaya ini, Selasa (20/8/2019).

Perjalanan dilanjutkan ke daerah Fakfak. Begitu touch down di bandara utama, Gus Hans disambut dengan kondisi bandara berupa bedeng dari triplek yang kalah bagus dari bedeng tempat tidur pekerja proyek pembangunan apartemen pada umumnya.

Gus Hans semakin yakin betapa terbelakang daerah yang ia kunjungi tersebut. Namun begitu perjalanan darat menuju pusat kota Fakfak semua pikiran tentang keterbelakangan dan juga susahnya mencari masjid seketika sirna. Aspal yang halus, rumah-rumah bertembok permanen tak ubahnya di tanah Jawa. Bahkan masjid raya di kawasan tersebut tak kalah dengan masjid raya yang ada di pulau Jawa.

Di fakfak tak sedikit sepeda motor diparkir di pinggir jalan tanpa dikunci. Karena kondisi geografis pegunungan yang tidak memungkinkan sepeda masuk dalam rumahnya tetap aman aman saja walau berhari-hari. Di Fakfak sudah terbiasa dalam satu rumah dan keluarga memiliki keyakinan yang berbeda baik Katolik, Kristen, Islam dan animisme atau dinamisme.

Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan rukun damai tanpa ada masalah masalah yang berarti. “Mereka punya filosofi hidup yang selalu dipegang hingga kini yaitu; satu tungku, tiga batu. Tungku adalah simbol kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari “kau”, “saya” dan “dia” yang dalam prakteknya ada perbedaan baik agama, suku, status sosial tetapi tetap dalam satu wadah persaudaraan,” katanya.

“Negara kita tercinta ini adalah anugerah dari Alloh SWT yang telah menyatukan 700 ratusan kabilah atau suku dalam satu wadah; Indonesia. Negara kita tercinta ini adalah kekuatan tersembunyi yang belum terasah maksimal untuk menjadi poros kekuatan dunia. Negara kita tercinta ini adalah rumah bagi orang orang pecinta perdamaian yang lahir dari rahim dari orang orang berjiwa besar yang mampu menyisihkan ego dan kepentingan kepentingan kelompoknya,” sambungnya.

Gus Hans berpandangan, tugas kita semua adalah menjaga dan merawat bangsa dari ancaman-ancaman pihak pihak yang tidak menghendaki Indonesia menjadi negara besar, kuat dan berpengaruh dalam turut mengukir peradaban dunia. “Salam damai untuk semua karena rasa damai harus dimiliki oleh semua,” pungkasnya. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar