Peristiwa

Gubernur Papua Minta Persekusi Mahasiswa Papua di Surabaya Dihentikan

Jayapura (beritajatim.com) – Gubernur Papua Lukas Enembe memberikan pernyataan terkait aksi persekusi yang dilakukan sejumlah organisasi kemasyarakatan dan aparat keamanan baik polisi dan tenatara terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur yang bertepatan dengan suasana Peringatan Hari jadi ke-74 RI.

Dalam siaran persnya Minggu (18/8/2019) malam, Gubernur menyampaikan lima poin pernyataan sikap.

Pertama, Pemerintah Provinsi Papua menyatakan empati dan prihatin atas insiden yang terjadi di Kota Surabaya, Kota Semarang dan Kota Malang yang berakibat adanya penangkapan dan atau pengosongan Asrama Mahasiswa Papua di Kota Surabaya oleh aparat keamanan.

Pemerintah Provinsi Papua menghargai upaya hukum yang dilakukan oleh aparat keamanan sepanjang dilakukan secara proporsional, profesional dan berkeadilan. Aparat keamanan diharapkan untuk tidak melakukan pembiaran atas tindakan persekusi dan atau main hakim sendiri oleh kelompok atau individu, yang dapat melukai hati masyarakat Papua.

“Hindari adanya tindakan-tindakan mengganggu, represif yang dapat menimbulkan korban jiwa, kegaduhan politik, dan rasa nasionalisme sesama anak bangsa,” tegasnya.

Kedua, Provinsi Papua merupakan Wilayah Republik Indonesia yang dikenal sebagai miniatur Indonesia sesungguhnya Yang ber-bhineka Tunggal Ika. Penduduk Provinsi Papua adalah multi etnis, multi agama, multi budaya, yang hidup secara berdampingan.

“Masyarakat asli Papua menyambut baik dan memperlakukan masyarakat non-Papua secara terhormat dan sejajar. Oleh karenanya kami berharap kehadiran masyarakat Papua di berbagai wilayah provinsi di Indonesia harus juga diperlakukan sama,” kata Gubernur.

Hal ini, kata dia, merupakan komitmen bersama sebagai anak bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang damai, berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan beretika secara budaya.

Ketiga, Pemerintah Provinsi Papua menyampaikan kepada seluruh masyarakat Papua yang berada di Provinsi Papua maupun seluruh wilayah Indonesia untuk merespon insiden Surabaya, Semarang dan Malang tersebut secara wajar tanpa adanya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma-norma, adat, budaya maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Keempat kepada masyarakat non-Papua di seluruh Wilayah Indonesia juga diharapkan agar tetap menjaga harmoni kehidupan dan tidak melakukan hal hal atau tindakan-tindakan yang inkonstitusional, seperti persekusi, main hakim sendiri memaksakan kehendak, bertindak rasis, dan diskriminatif, intoleran dan Iain-Iain yang dapat melukai hati masyarakat Papua serta mengganggu harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita sudah 74 tahun merdeka, seharusnya tindakan-tindakan Intoleran, rasis dan diskriminatif tidak boleh terjadi di negara Pancasila yang kita junjung bersama,” ujar Gubernur.

Kelima, selaku Gubernur Papua, Lukas mengajak para gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia untuk ikut melakukan pembinaan terhadap pelajar atau mahasiswa Papua di wilayah masing-masing.

“Sebagaimana kami juga bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan kepada pelajar, mahasiswa, masyarakat di Papua yang berasal dari luar Papua,” tegasnya.

Hal ini, lanjut Lukas, merupakan upaya bersama yang dilakukan untuk mencegah adanya insiden serupa di masa yang akan datang sekaligus dalam rangka merajut rasa nasionalisme, persatuan, dan kebersamaan sebagai sesama anak bangsa.[ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar