Peristiwa

GMNI Ubah Papan Nama Disnaker Jadi Dinas Kurang Kerjaan

GMNI saat berunjuk rasa memperjuangkan nasib eks pekerja kebun.

Jember (beritajatim.com) – Puluhan orang yang tergabung dalam Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia berunjuk rasa memprotes pesangon untuk eks pekerja PT Perkebunan Nusantara 12, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (27/3/2019).

Mereka meneriakkan tuntutan di depan kantor Dinas Tenaga Kerja Jember di Jalan Kartini. Mereka melakukan aksi simbolis, dengan menutup sebagian huruf pada prasasti nama Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi dan mengubahnya menjadi Dinas Kurang Kerjaan.

Dalam pernyataan sikapnya, GMNI menjelaskan, ada tujuh orang pekerja Kebun Banjarsari yang diputus hubungan kerja sepihak oleh perusahaan pada 1 November 2018. Namun para pekerja ini hanya mendapat pesangon berupa peci, sarung, dan baju koko.

Ketua DPK GMNI Hukum Unej Rizaldi Abdillah menyesalkan tindakan sepihak perusahaan. “Kami tidak hal ini terus berulang. Pengawasan di bidang ketenagakerjaan harus ditingkatkan,” katanya.

Rizaldi menyatakan ketidakpercayaan terhadap Dinas Tenaga Kerja yang disimbolkan dengan aksi ubah nama. “Kami sudah melayangkan surat. Kami sudah mendesak ke PTPN 12. Ketika kami minta daftar pekerja Kebun Banjarsari ke Dinas Tenaga Kerja, mereka menyatakan tidak punya data. Lantas apa yang diawasi? PTPN ini sudah berdiri lama,” katanya.

GMNI mendesak Komisi D DPRD Jember agar menyelesaikan persoalan yang dihadapi eks pekerja Kebun Banjarsari PTPN 12. Mereka juga mendesak Pemerintah Kabupaten Jember terlibat aktif dalam penyelesaian masalah. “Bagi kami, apa yang dilakukan PTPN 12 tidak prosedural,” kata Rizaldi.

Manajer Kebun Banjarsari PTPN 12 Ignasius Purwo Yuliantoko mengatakan, ada 13 orang pekerja berusia 65 – 80 tahun. “Rata-rata 70 tahun. Kalau itu saya pekerjakan terus kan berbahaya juga buat saya, kartena saya memekerjakan orang di atas usia kerja. Risikonya terlalu berat bagi mereka,” katanya.

Manajemen kebun lantas mengecek kesehatan para pekerja itu. Dari situ, diketahui bahwa kesehatan mereka sudah tak memungkinkan untuk bekerja terus. Manajemen Kebun Banjarsari meminta mereka mengundurkan diri dan memberi tali asih. “Semula satu bulan gaji dan seperangkat pakaian ibadah. Semuanya oke-oke saja sebelumnya, tak ada masalah pada bulan November,” kata Ignasius.

“Lalu ada gonjang-ganjing. Mereka saya kumpulkan kembali dan ada kesepakatan lagi: saya naikkan (tali asih) tiga bulan (gaji). Delapan orang mau, lima orang tidak mau dan meminta lebih. Tapi satu minggu lalu, dua orang mau menerima. Tinggal tiga orang itu tidak mau menerima, dan komunikasi ke mana-mana,” kata Ignatius. Namun tiga orang ini sudah menerima tali asih satu bulan gaji, masing-masing Rp 1 juta.

Ignasius mengakui, mereka tidak memiliki kontrak kerja. “Mereka kan orang-orang sudah tua. Di kebun biasanya rasa sosial masih melekat, kebetulan mereka tinggal di sekeliling kebun, maka mereka tetap kami pekerjakan sebagai petugas keamanan. Walau pun mungkin mereka tidak seratus persen masuk (memenuhi syarat), karena sudah tua. Karena ada yang berusia 80 tahun dan dalam tes kesehatan ada yang sesak napas, kami tidak berani memekerjakan dia. Kami ajak berembuk supaya mereka mau tidak bekerja lagi,” katanya.

Menurut Ignasius, awalnya tiga orang ini mau menerima. Ia menduga, ada yang membujuk mereka untuk kemudian menolak. Perwakilan perusahaan kemudian ada yang menemui mereka. Namun tiga orang itu tetap menolak untuk menerima tali asih tiga bulan gaji. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar