Peristiwa

Erupsi Gunung Bromo, Puluhan Pohon Tumbang

Malang (beritajatim.com) – Sejak mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 29 Februari 2019 hingga saat ini, Gunung Bromo terus mengeluarkan abu vulkanis. Erupsi Gunung Bromo mengalami peningkatan dari aktif normal menjadi waspada (level II).

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Syarif Hidayat mengatakan, dampak dari semburan abu vulkanis itu puluhan pohon tumbang, rumah roboh dan hasil pertanian warga tertutup abu.

“Jenis pohon yang tumbang Acacia decurrens. Kami mendata lebih kurang 30 pohon tumbang yang infonya karena volume debu dan cuaca,” kata Syarif, Rabu (20/3/2019).

Syarif menyebut, TNBTS saat ini hanya melakukan inventarisir kerusakan akibat abu vulkanis di kawasan Taman Nasional saja. Untuk rumah roboh dan lahan pertanian warga ditangani oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Untuk rumah benar tapi saya tidak memonitor, dalam penanganan camat dan BPBD,” ucap Syarif.

Kawasan paling parah terdampak adalah Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kemudian kawasan Pananjakan dan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Material vulkanis Bromo berupa abu dan kerikil, mengikuti arah angin.

“Abu vulkanis yang menutup atap rumah dan tanaman pertanian informasinya setebal 0,5 sentimeter hingga 1 sentimeter. Tak mengganggu lalu lintas penerbangan,” tandas Syarif.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pantau Gunung Bromo, Selasa (19/3/2019), setidaknya terjadi 28 kali letusan. Tinggi asap sekitar 1.000 sampai 1.200 meter dari bibir kawah, dari sebelumnya hanya setinggi 500 meter sampai 700 meter. Warna asap putih, kelabu hingga hitam. [luc/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar