Peristiwa

Dilanda Kekeringan, Warga Sampang Mandi Air Kotor

Foto kubangan sungai di Desa Torjunan yang tersisa genangan air kotor untuk mandi dan mencuci.

Sampang (beritajatim.com) – Bencana kekeringan yang terjadi sampai saat ini sangat dirasakan masyarakat di sebagian wilayah kabupaten Sampang. Salah satunya, di Desa Tojunan, Kecamatan Robatal. Sebab, kekeringan yang melanda mengakibatkan warga di desa tersebut kesulitan mendapatkan air, warga terpaksa menggunakan air kubangan yang ada di sungai untuk mandi dan mencuci pakaian.

Pantauan di lokasi. Saat musim kemarau seperti sekarang sungai tersebut kering, namun masih ada dua titik kubangan air yang tersisa. Setiap hari warga memanfaatkan kubangan itu untuk mandi dan mencuci pakian. Padahal, airnya sudah kotor, berubah warna dan bau.

Aisyah (32) warga setempat menuturkan, setiap tahun selama musim kemarau desanya selalu mengalami krisis air bersih. Sumur milik warga kering. Jadi, untuk bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga harus membeli air tangki.

Kekurangan air mulai dirasakan sebelum Idul Adha. Untuk mendapatkan air bersih, dia membeli Rp 300 ribu per tangki. Satu tangki berisi lima ribu liter dan bisa dipakai selama seminggu. “Itu untuk memasak, mandi, mencuci, dan semacamnya, terangnya, Senin (2/9/2019).

Jika tidak membeli air tangki. Aisyah harus bangun pukul empat pagi untuk mengambil air di sumur warga di desa Jelgung. Sementara, jarak antara Desa Torjunan dengan Jelgung kurang lebih dua kilometer.

“Kalau sudah tidak punya uang untuk beli air tangki. Kami terpaksa mandi dan mencuci dengan memanfaatkan kubangan air yang tersisa di aliran sungai. Airnya sudah kotor,” ujarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, Anang Djoenaidi mengatakan, desa yang tahun ini terdampak kekeringan berjumlah 67. Tersebar di 12 kecamatan. Jumlah desa kekeringan di Kota Bahari bertambah dibandingkan tahun lalu yang hanya ada 42 desa.

“Setiap musim kemarau desa Tojunan, Kecamatan Robatal memang selalu mengalami kekeringan. Sumur milik warga kering. Desa yang paling banyak mengalami kekeringan itu di Kedungdung, Robatal, Karang Penang, dan Sreseh,” ucapnya.

Program bantuan droping air bersih ke desa yang mengalami kekeringan sudah dilakukan. Pihaknya mendistribusikan air 6 – 12 tangki, tiap desa dibantu tiga tangki air. Lokasi pendistribusian ditempatkan di rumah kepala desa, depan masjid, lapangan, dan di tempat lain yang mudah dijangkau.

Pihaknya selalu berkoordinasi dengan camat dan kepala desa dalam mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Dan program droping air bersih dilakukan sampai Agustus 2019.

“Anggaran droping air bersih Rp 51 juta per desa. Jika ditotal dengan jumlah desa yang terdampak kekeringan maka anggaran program bencana kekeringan Rp 3.417 juta,” tandasnya.[sar/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar