Peristiwa

Dikira Pengunjung Karaoke 888, Tamu Hotel Tampiarto Diciduk

Probolinggo (beritajatim.com) – Petugas Satpol PP Kota Probolinggo, merazia salah satu fasilitas Hotel Tampiarto, JL. Raya Suroyo, kota setempat, Kamis (19/9/2019) malam sekitar pukul 23:00 WIB.

Kanit Satpol PP Kota Probolinggo, Hendra Kusuma, menyatakan, razia dilakukan atas rekomendasi  Walikota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin.

Hadi menduga, rumah karaoke 888 di kompleks Hotel Tampiarto, kembali buka setelah izin operasinya tidak diterbitkan lagi sejak 6 Juli 2019 lalu. “Setelah kami lakukan razia ternyata benar rumah karaoke tersebut kembali buka secara ilegal” katanya, Jum’at (20/9/2019)

Hasilnya, empat orang diamankan. Masing-masing dua perempuan dan dua laki-laki. “Mereka kami razia saat sedang asyik di dalam room berkaraoke,” tambah Hendra.

Langkah selanjutnya, Satpol PP segera memanggil pihak pengelola terkait pengunjung tempat karaoke tersebut. “Dalam waktu dekat pengelola kami akan panggil, mengapa tempat itu masih beroperasi,” tutup dia.

Terpisah, Manajamen Hotel Tampiarto, Arie Hafiz Azhari, membantah rumah karaoke 888 buka kembali. Room karaoke yang digunakan empat orang dimaksud murni fasilitas hotel. “Jadi yang dirazia itu tamu hotel kami. Bukan tamu 888. Kebetulan mereka sedang berkaraoke. Jam cek in dan di kamar mana mereka menginap semua ada datanya,” katanya.

Bahkan untuk menggunakan fasilitas karaoke, lanjut Arie, para tamu harus memiliki vocer. Akses pintu masuk juga berubah. Jika pintu masuk rumah karaoke 888 ada di depan hotel karena didesain untuk umum, tidak demikian untuk fasilitas hotel. Pintu masuk benar-benar ekslusif dan dijaga ketat. Tamu harus melewati ruang makan setelah ambil voucer di meja resepsionis yang bersebelahan dengan ruang lobi hotel.

“Fasilitas ini untuk tamu kami. Ga semua bisa masuk loh. Dan fasilitas ini juga resmi. Izin nya sudah include bersamaan izin usaha hotel dan resto yang kami kantongi,” lanjut dia.

Terkait razia salah sasaran ini, Arie justru berharap semua yang berkepentingan terhadap tempat karaoke dan hiburan, bisa menyamakan presepsi. Kembali merujuk Peraturan Kementerian Pariwisata dan Propinsi Jawa Timur, bisa menjadi solusi.

Cara tersebut kata dia, demi mengakomodir kepentingan para pihak. Baik pemerintah daerah maupun pengusaha yang sedang berinvestasi di Kota Probolinggo. “Kita ini sangat hormat dan ga mau melawan kepala daerah. Tapi satu sisi kami juga berfikir bagaimana iklim inveatasi di Kota Probolinggo dan usaha kami tetap jalan. Izin usaha kami masih sampai 2022 loh,” katanya.

Apa lagi, lanjut Arie, yang dirazia tamu hotel yang memang menikmati fasilitas dari hotel. Bukan pengunjung tempat karaoke yang datang hanya untuk bernyanyi. “Kita juga amini harapan pak wali kok. Tidak ada prostitusi, tidak ada narkoba, tidak ada miras yang dilarang edar. Kami pihak hotel juga berusaha mencegahnya,” pungkas alumnus IAIN Sunan Ampel itu. (eko/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar