Peristiwa

Demokrasi Kafir, Jihadis Garis Keras ISIS Benci PKS

Jember (beritajatim.com) – Kelompok Wahabi garis keras yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia menolak keras demokrasi. Itulah kenapa mereka menganggap partai-partai Islam kafir.

Hal ini dikemukakan Kurnia Widodo, seorang mantan teroris, dalam dialog pelibatan sivitas akademika dalam pencegah terorisme, di gedung Rektorat Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/7/2019).

“Manhaj kami Wahabi. Fatwa-fatwanya keras gampang sekali membid’ahkan. Ketika masuk ke jihadis keras, kalau tidak mengafirkan orang kafir malah dia (dianggap) kafir,” kata Kurnia.

Kebiasaan membid’ahkan ini bahkan membuat internal ISIS saling bentrok, karena mudah melemparkan tuduhan bid’ah kepada kawan sendiri.

ISIS di Indonesia di bawah bimbingam spiritual Aman Abdurrahman. Guru Aman adalah Muhammad Al Maqdisi yang menyebut Arab Saudi kafir.

Di mata ISIS, siapapun pemerintah negara yang mengakui demokrasi adalah kafir. “Kita anggap demokrasi (tak ubahnya) agama. Kalau ikut demokrasi otomatis musyrik. Kalau kita nyoblos, maka kita mencoblos Tuhan selain allah, walau dia partai Islam seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PBB (Partai Bulan Bintang),” kata Kurnia.

“Salat kalau imamnya pelaku demokrasi dan aparat pemerintah, salatnya tak sah. Misalkan imamnya orang PKS, salatnya tak sah,” kata Kurnia.

“Saya dulu waktu Jumatan ada khatib ngomong agar kita mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Saya keluar dari masjid, tidak jumatan,” tambah pria kelahiran Medan, 1 September 1974, ini.

Dalam urusan makanan, orang-orang pengikut ISIS di Indonesia tak mau makan daging. “Ini karena mereka menganggap daging itu disembelih orang Indonesia yang dianggap kafir. Mereka akhirnya makan ikan,” kata Kurnia. (wir/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar