Peristiwa

Daop 9 Jember: Laka Berawal dari Perlintasan Sebidang, Warga Harus Paham

Mobil melintas di perlintasan kereta api. (Foto: Rindi)

Banyuwangi (beritajatim.com) – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional 9 Jember mencatat kecelakaan sering terjadi di perlintasan sebidang. Hal itu menjadi perhatian serius dari pihak KAI, sehingga perlu sosialisasi untuk memberi pemahaman bersama warga.

Ada tiga poin dalam sosialisasi itu. Di antaranya, melaksanakan perintah peraturan perundang-undangan yang mengatur dan/atau terkait perlintasan sebidang.

Kedua, melakukan evaluasi keselamatan di perlintasan sebidang sesuai kewenangannya. Serta, melakukan kegiatan peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang sesuai tugas dan kewenangannya.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat untuk menaati aturan lalu lintas di perlintasan sebidang semakin meningkat. Sebab, pelanggaran lalu lintas di perlintasan sebidang tidak saja merugikan pengendara jalan tetapi juga perjalanan kereta api,” jelas Manager Humas PT KAI Daop 9 Jember, Mahendro Trang Bawono, Rabu (18/9/2019).

Lokasinya, kata Mahendro, ada tiga titik di wilayah Kabupaten Jember di JPL 163, JPL 161, serta JPL 125 dan 3 titik di wilayah Kabupaten Banyuwangi di JPL 19, JPL 17, serta JPL 9.

“Meskipun kewajiban terkait penyelesaian keberadaan di perlintasan sebidang bukan menjadi bagian dari tanggung jawab KAI selaku operator, namun untuk mengurangi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang beberapa upaya telah dilakukan KAI. Di antaranya melakukan sosialisasi dan menutup perlintasan tidak resmi,” terangnya.

Selain itu, PT KAI Daop 9 Jember mencatat terdapat 381 perlintasan sebidang yang resmi dan 76 perlintasan sebidang yang tidak resmi. Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa flyover maupun underpass berjumlah 33.

“Selama tahun 2019, di wilayah PT KAI Daop 9 Jember telah terjadi 14 (empat belas) kali kecelakaan yang mengakibatkan 9 (sembilan) nyawa melayang. Salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan juga kerap terjadi lantaran tidak sedikit para pengendara yang tetap melaju meskipun sudah ada peringatan melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi,” jelasnya.

Sejauh ini, sebanyak 27 perlintasan tidak resmi telah ditutup oleh PT KAI Daop 9 Jember sepanjang tahun 2018 – Juni 2019. ‚ÄúSosialisasi di perlintasan sebidang ini tak hanya sampai di sini saja. Kami berkomitmen agenda sosialisasi ini akan terus berkelanjutan secara bertahap di titik lain. Meskipun pada prosesnya langkah yang dilakukan KAI untuk keselamatan tersebut juga kerap mendapatkan penolakan dari masyarakat, maka dibutuhkan langkah untuk mencari jalur alternatif bagi masyarakat yang harus disolusikan bersama oleh pemerintah pusat atau daerah,” pungkasnya. [rin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar