Peristiwa

BPBD Kabupaten Mojokerto Gelar Peningkatan Kapasitas SDM Penanggulangan Bencana

Pelatihan Kapasitas SDM Penanggulangan Bencana yang digelar BPBD Kabupaten Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menggelar Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Penanggulangan Bencana. Kegiatan yang digelar selama dua hari tersebut diikuti kurang lebih 70 peserta.

Peserta berasal dari unsur BPBD Kabupaten Mojokerto, unsur relawan mitra BPBD, unsur Tim Reaksi Cepat (TRC), unsur Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dan unsur Pemadam Kebakaran (PMK). Hari pertama diisi Medical First Responder (MFR).

MTF menghadirkan narasumber dr. Elvin Kristian dari RS Gatoel Kota Mojokerto. Sementara hari kedua diisi praktek High Angle Rescue Technique (HART), materi Water Rescue dan praktek Water Rescue. Materi HART diisi narasumber M Zainudin dan Roni dari BPBD Kabupaten Jombang.

Materi Water Rescue diisi narasumber Basuni dan Zamhari dari Komunitas Relawan Indonesia Mojokerto (KRI Mojokerto). Dengan kegiatan tersebut diharapkan kapasitas SDM para peserta dalam penanggulangan bencana lebih meningkat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, MFR adalah penolong yang pertama kali tiba ditempat kejadian, yang memiliki kemampuan penanganan kasus gawat darurat, terlatih untuk tingkat dasar.

“Kewajiban MFR yakni menjaga keselamatan diri, anggota, tim, orang sekitar dan penderita (korban). Menjangkau korban, dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa korban, meminta bantuan,” ungkapnya, Jumat (15/11/2019).

Kewajiban MFR lainnya, masih kata Zaini, yakni memberikan bantuan berdasarkan keadaan korban, membantu pelaku pertolongan pertama, mencatat data-data korban, berkomunikasi dengan petugas terlibat lainya dan mempersiapkan transportasi untuk korban.

“Dari kegiatan tersebut disimpulkan jika penyelamatan vertikal atau yang lebih dikenal dengan vertical rescue adalah teknik evakuasi (memindahkan ke lokasi yang lebih aman) obyek (baik barang maupun manusia/korban) dari titik rendah ke titik yang lebih tinggi ataupun sebaliknya, pada medan yang curam/vertical baik kering maupun basah,” jelasnya.

Vertical rescue, lanjut Zaini, merupakan salah satu bentuk kegiatan teknis penyelamatan korban yang paling berbahaya. Zaini meninta kepada para peserta agar meningkatan pelatihan, kerjasama tim dan komitmen individu karena merupakan hal yang terpenting yang diperlukan untuk pemulihan korban yang terjebak dalam lingkungan vertikal. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar