Peristiwa

BPBD Kabupaten Mojokerto Datangkan Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia

Kegiatan FGD Penyusunan RPB yang digelar BPBD Kabupaten Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mendatangkan Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Hendro Wardhono dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Mojokerto, Selasa (10/12/2019).

Bertempat di kantor Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Mojokerto, kegiatan yang dihadiri instansi terkait ini juga mendatangkan mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2008-2015, Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof Dr Syamsul Maarif S.Io, M.H.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, mantan Kepala BNPB memberikan materi tingkat risiko bencana. “Seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir maupun pencemaran. Bencana-bencana tersebut sangat tergantung karakteristik dari komunitas dan kelompok masyarakatnya,” ungkapnya.

Sehingga upaya untuk mengurangi kerentanan atau meningkatkan ketahanan tergantung pada relasi antara kesadaran terhadap bencana dan partisipasi masyarakat, kondisi ekosistem serta manajemen tata ruang yang diterapkan di wilayah tersebut. Tujuannya, lanjut Zaini, untuk mengurangi resiko bencana.

“Sementara Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia menyampaikan agar kehidupan back to nature. Bangunan tidak boleh merusak alam. Untuk lembaga pemerintah, program penanggulangan bencana harus tetap sustainable. Dimana ini berarti program berkesinambungan tidak terpengaruh oleh pergantian pejabat,” katanya.

Zaini menambahkan, mengutamakan setiap event ilmiah harus melahirkan naskah akademik. Acuan bencana tidak hanya satu wilayah, perlu dilakukan pendekatan sinergi antar lembaga serta ahli serta mengembangkan banyak penelitian tentang kebencanaan.

“Dari kegiatan ini dihasilkan rekomendasi, peningkatan kapasitas resiko bencana melalui program-program di semua program kerja pemerintah, dunia usaha, lingkungan pendidikan agar tercipta masyarakat tangguh bencana. Di bidang akademisi agar saling bersinergi untuk menciptakan naskah atau pemikiran tentang pedoman resiko bencana,” tegasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar