Peristiwa

Berharap Raih Pahala Seribu Bulan di Madinah

Ferry Is Mirza dini hari dari pelataran Masjid Nabawi Medinah, 26 Ramadhan/ 31 Mei 2019.
Madinah – Malam itu penulis bersyukur sudah tiba di kota tempat Rasulallah wafat dan dimakamkan yang disebut Al Munawara itu. Sangat terasa lautan jamaah dari berbagai suku bangsa berlomba mencari kemuliaan Lailatul Qadar.
Di awal malam ke 21 Ramadan —setelah menunaikan 20 rakaat tarawih—dengan Imam Masjid Nabawi Syaikh Ali Huzaifi diumumkan bahwa witir akan dilaksanakan pada separuh akhir malam.

Ketika itu waktu menunjukkan kurang lebih pukul 01.00 dini hari Waktu Saudi Arabia atau pukul 05.00 WIB. Muazin menyampaikan akan dilaksanakan Qiyamul Lail atau salat malam. Salat dilakukan sebanyak delapan rakaat dan diakhiri dengan witir sebanyak tiga rakaat dua kali tahiyatul.

Malam 21 itu jamaah masjid Nabawi memang lebih ramai dari malam sebelumnya. Berbeda dengan kondisi jamaah masjid di Tanah Air yang mungkin karena efek mudik menjadi berkurang setengahnya atau bahkan lebih.

Sepuluh hari terakhir, baik di masjid Nabawi Madinah atau Masjidil Haram Makkah, justru makin ramai. Terutama pada malam ganjil dan utamanya lagi pada malam ke 27 yang jatuh hari Jum’at malam ini 31/05/19.

Shalat Qiyamul Lail usai dilaksanakan. Kemudian saya menuju ke luar di mana sajian sahur banyak disediakan oleh para muhsinin alias donator. Pilihannya begitu banyak dan beragam, karena orang-orang ingin lebih memaksimalkan ibadahnya pada hari-hari akhir Ramadan.

Itikaf pada sepuluh hari akhir Ramadan adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wassalam sampai beliau meninggal dunia.

Ketika Ramadan yang terakhir kalinya, beliau justru beritikaf sebanyak dua puluh hari. Beliau bahkan mengajak keluarganya serta mengencangkan sarungnya demi berburu apa yang disebut Lailatul Qadar (LQ).

LQ adalah sebuah malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam itu nilainya akan setara dengan amal seribu bulan. Setiap muslim sangat berharap supaya dapat mendapatkan anugerah tersebut.

Lalu kenapa malam hari tidak siang hari?
Di malam hari saja orang banyak yang lalai buat mencarinya apalagi siang ? Lagi pula pada siang hari kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi. Dari mulai mahalnya tiket mudik sampai harga mukena ala artis Syahrini dan hal-hal lainnya.

Kapan LQ terjadi? Nabi Muhammad memberikan petunjuk untuk mencarinya pada sepuluh hari akhir Ramadan. Utamanya lagi pada malam-malam ganjil. Namun, kapan persisnya para ulama berbeda pendapat. Setiap pendapat punya dalil tersendiri. Imam Ghozali sendiri punya rumusan tersendiri mengenai hal ini.   Sebagaimana terekam pada kitab-kitab ulama Syafiiyah.

Lalu kenapa Allah merahasikankannya jika LQ terdapat kebaikan yang begitu besar di dalamnya? Menurut penulis, untuk meraih LQ mirip-mirip dengan perkara cari jodoh. Sama-sama rahasia dan sama-sama anugerah yang besar jika berhasil mendapatkannya. Ketika dia menjadi rahasia Allah, maka kita akan menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menjemputnya.

Bagaimana cara mendapatkannya? Ada yang mengatakan harus menghidupkan malam dengan cara beribadah selama satu malam full. Ada juga yang mengatakan minimal lebih dari setengah malam, jadi jika satu malam ada sepuluh jam maka minimal 6 jam waktu yang harus kita habiskan untuk beribadah. Ada juga yang mengatakan beberapa jam juga boleh.

Terakhir, ada pula yang mengatakan minimal banget dengan mengerjakan salat Isya dan Subuh secara berjamaah, InsyaAllah bisa mendapatkan kemuliaannya.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa itikaf bukanlah syarat dalam menjemput malam ini. Namun, kondisi itikaf biasanya akan mampu untuk menambah semangat dan fokus seseorang dalam beribadah.

Lantas, apa yang ada di dalam LQ? Di dalamnya terdapat salam atau kedamaian dan keselamatan. Bisa juga diartikan bahwa malaikat menghormati dan mengucapkan salam kepada siapa saja yang mendapat karunia LQ. Seperti kebiasaan malaikat nanti yang mengucapkan salam kepada penghuni surga. Jadi mirip-mirip gladi resiklah sebelum nanti masuk surga beneran. Aamiin…

Ibnu Asyur membawakan pendapat yang cukup menarik. Beliau bilang bahwa makna salam di situ adalah mashdar yang mengandung perintah untuk berbuat atau merealisasikan kedamaian dan keselamatan. Beliau membawakan hadis bahwasannya Rasulullah sebetulnya ingin mengabarkan tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Lalu di hadapan beliau ada dua orang sahabat yang terlibat argumen cukup keras. Melihat hal itu, akhirnya beliau mengurungkan diri dan mengatakan semoga (dengan aku merahasiakan hal itu) baik untuk kalian semua. Maksudnya adalah supaya kita menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Menarik dicermati untuk kita sebagai anak negeri. Friksi dua orang sahabat yang sebatas adu argumen menjadi salah satu sebab terhalangnya kita mengetahui LQ yang di dalamnya terdapat salam kedamaian dan keamanan. Lalu bagaimana dengan friksi antar dua kelompok yang massanya bisa dibilang tidak sedikit? Mengingat kondisi bangsa yang cukup panas pada hari belakangan ini baiknya kita wujudkan salam kedamaian dengan berkomentar yang baik atau diam dan tidak turut andil dalam menyebarkan berita yang membuat panas emosi jiwa anak bangsa yang lainnya.

Mudah-mudahan kita dijadikan Allah termasuk orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari serta mendapatkan LQ. Bukan orang yang justru disibukkan dengan lailatul kopdar (kopi darat) ataupun lailatul makbar (makan bareng). [fim/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar